BEATO GREGORIUS X

Kisah Orang Kudus 10 Januari 2023: Beato Gregorius X

Teobaldi Visconti dilahirkan di Picenza-Italia pada tahun 1210. Teobaldi adalah pembantu Kardinal Yakopo Pecoraria, diutus oleh Paus Gregorius ke 9 dalam suatu misi ke Perancis dan Inggris. Ia juga menjadi salah satu anggota militan kelompok pejuang pembebasan Tanah Suci.

Sesudah Paus Klemens ke 4 wafat, Tahta Suci lowong selama tiga tahun karena terjadi perpecahan dalam tubuh Kolegium Para Kardinal antara blok Perancis dan Italia.

Berkat kerja keras enam cardinal, yang dipilih dari 15 Kardinal dalam pertemuan di kota Viterbo, Teobaldi Visconti terpilih menjadi Paus. Ketika itu, Teobaldi masih berada di Palestina dan baru berangkat ke Viterbo pada bulan Pebruari tahun 1271.

Pada tanggal 19 Maret 1271 beliau dinobatkan menjadi Paus Gregorius ke 10. Selama kepemimpinannya, ia berusaha dalam pembangunan kekaisaran Romawi yang suci, pembaharuan Gereja, serta persatuan gereja-gereja Yunani. Paus Gregorius memisahkan dengan tegas antara urusan Gereja dan negara tetapi erat bekerja sama.

Konsili besar di Lyons, Perancis, yang merupakan suatu prestasi besar, terselenggara di bawah pimpinannya dengan dihadiri 1500 prelatus Gereja. Dengan bantuan dana dari Perancis dan Inggris, ia membebaskan Tanah Suci Yerusalem. Paus Gregorius wafat pada tahun 1276.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Lik Sastrodikromo

INSIDE OUT

Renungan Tetes Embun: Selasa, 10 Januari 2023

Mereka takjub mendengar pengajaran-Nya, sebab Ia mengajar mereka sebagai orang yang berkuasa, tidak seperti ahli-ahli Taurat. (Markus 1: 22)

Salah satu founding father Indonesia yaitu Ir. Soekarno terkenal sebagai pembicara ulung. Kalimat dalam pidatonya hingga saat ini masih sering dikutip untuk membangkitkan semangat kemerdekaan.

Keahlian berbicara di muka umum milik Ir Soekarno tidak datang begitu saja. Konon saat masih tinggal di rumah kos milik HOS Tjokroaminoto di Surabaya, Soekarno muda setiap hari berlatih bicara di depan cermin.

Berbeda dengan Yesus, sejak semula Bapa telah menganugerahkan keistimewaan kepada-Nya termasuk dalam hal berbicara. Ingatlah ketika usianya 12 tahun, Yesus telah mampu memukau para guru agama di bait Allah dengan pemahamanNya yang luar biasa tentang Kitab Suci.

Dan situasi serupa kembali terjadi di Kapernaum. Yesus masuk ke rumah ibadat, mengajar disana, dan mulailah orang takjub mendengar pengajaranNya. Rasa takjub ini hadir dikarenakan kuasa Allah sendiri, yang ditampakkan Yesus dalam perkataanNya.

Kita pun juga bisa seperti Yesus, mampu bicara dengan penuh kuasa dihadapan banyak orang. Kuncinya adalah mengandalkan Allah. Sebagai manusia yang memiliki banyak kelemahan, apalagi dalam situasi berhadapan dengan banyak orang, seringkali timbul rasa kurang percaya diri.

Namun dengan membiarkan diri kita dipimpin Allah, maka kuasa Allah bekerja atas diri kita. Segala kelemahan kita, Allah menutupnya dengan kemahakuasaanNya. Karena apa yang ada didalam diri kita, akan tercermin pada tindakan kita yang dilihat oleh sesama.

Ya Bapa, kami manusia yang lemah dan punya banyak kekurangan. Ajari kami untuk bersandar hanya kepada Engkau saja, Sang Maha Sempurna, agar kekurangan kami bisa menjadi sarana untuk memperlihatkan kesempurnaanMu dihadapan sesama kami. Amin.

Penulis: Hedwigis Belto
Pengisi: Maria Indah Stephanie

SANTA MARSIANA

Kisah Orang Kudus 9 Januari 2023: Santa Marsiana

Meskipun Marsiana adalah seorang wanita, namun ia terkenal sebagai seorang pahlawan iman yang gigih mempertahankan ajaran iman Gereja. Marsiana lahir di Rusuccur, sebuah desa di kepulauan Mauritania.

Sejak masa mudanya, ia sudah mempunyai perhatian besar pada hal-hal kerohanian sebagai mana dituntut oleh imannya. Dengan demikian kemuliaan dan kekayaan duniawi kurang bernilai baginya. Pada masa pemerintahan Kaisar Diokletianus, Marsiana dengan berani melancarkan perlawanan terhadap para penyembah berhala.

Akibatnya ia ditangkap dan disiksa secara kejam. Para gladiator mencoba menodai kemurniannya, namun tidak berhasil. Tuhan kiranya melindunginya dan menjadikannya sarana yang ampuh untuk mempertobatkan salah seorang dari antara para gladiator itu.

Ia dibawa ke Kaesarea dan dimasukkan ke dalam gelanggang binatang buas untuk diadu dengan banteng dan singa buas. Di gelanggang itu, ia menemui ajalnya sebagai seorang martir Kristus yang gagah berani setelah tubuhnya dicabik – cabik oleh binatang-binatang buas itu. Ia dihormati sebagai pelindung kota Tortosa, Spanyol.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Lik Sastrodikromo

RENDAH HATI

Renungan Tetes Embun: Senin, 9 Januari 2023

“Maka datanglah Yesus dari Galilea ke Yordan kepada Yohanes untuk dibaptis olehnya.” (Matius 3:13)

Saat meninggalnya Ratu Elizabeth II pada bulan September 2022, salah satu yang menjadi berita di media massa adalah tentang David Beckham yang rela mengantre selama lebih dari 13 jam untuk memberikan penghormatan kepada mendiang ratu yang telah berjasa bagi kehidupannya.

Mantan kapten tim sepak bola Inggris itu disorot sebab bisa saja ia menggunakan pamornya untuk mendapatkan jalan pintas, namun dia memilih untuk datang sebagai warga biasa tanpa menggunakan fasilitas yang tersedia.

Sikapnya ini disanjung banyak orang sebagai bentuk kerendahan hati yang menyegarkan disaat banyak orang kaya dan orang penting lainnya menyalahgunakan kemampuan mereka demi kepentingan mereka sendiri.

Dalam Injil hari ini, Yesus sendiri memberikan teladan kerendahan hati yang sungguh patut diteladani. Dia datang kepada Yohanes untuk meminta babtisan, bahkan hingga Yohanes sendiri menolaknya karena Yohanes merasa dirinya tidak layak.

Namun jawaban Yesus sungguh bijaksana: “Biarlah hal itu terjadi, karena demikianlah sepatutnya kita menggenapkan seluruh kehendak Allah.”

Semoga kita semua pun selalu mengedepankan sikap rendah hati. Bukan agar dipuji orang lain, namun sebagai pengikut Yesus, sudah sepatutnya kita mengikuti apa yang dilakukanNya: yakni membiarkan diri kita dipakai oleh Allah sebagai sarana mewujudkan kehendakNya, dan langkah pertama yang harus dilakukan adalah merendahkan hati di hadapan Allah.

Ya Bapa yang selalu rendah hati dan selalu mengajarkan kami untuk merendahkan hati, utuslah roh kudusMu membantu kami di dalam menjalani kehidupan ini. Banyak sekali celah untuk kami jatuh dalam kesombongan, namun kami yakin dengan rahmat-Mu kami dapat mengatasinya. Amin.

Penulis: Hedwigis Belto
Pengisi: Maria Indah Stephanie

SANTO APOLLINARIS DARI HIEROPOLIS

Kisah Orang Kudus 8 Januari 2023: Santo Apollinaris dari Hieropollis

Serangan terhadap iman Kristen dan semua ajarannya merupakan sebuah kenyataan yang dihadapi gereja semenjak dulu. Banyak sekali Bapa Gereja yang masyur namanya karena membela mati – matian kebenaran iman Kristiani.

Apolinaris, Uskup kota Hieropolis, Phyrigia pada abad ke 2, termasuk salah satu pembela terkenal ajaran iman Kristen. Dengan kegiatan pengajarannya dan tulisan-tulisan, ia berhasil membela kemurnian ajaran Kristen dari rongrongan para bidaah, terutama dari golongan Ecthesis dan Montanist.

Ia bahkan berhasil membela ajaran iman di hadapan Kaisar Markus Aurelius. Pembelaannya sungguh meyakinkan Kaisar, berkat mukjizat yang dibuatnya di depan Kaisar tatkala pasukan Kaisar di kepung dan dipermalukan oleh Quadi di Moravia.

Ke-12 Legion tentara yang beragama Kristen diajaknya berdoa bersama-sama, sehingga musuh dapat dikalahkan dengan mudah. Hasilnya ialah pemerintah mengeluarkan sebuah pengumuman untuk menarik kembali larangan terhadap agama Kristen di seluruh daerah kekuasaannya.

Santo Apollinaris banyak berkarya dan menulis membela iman melawan bidaah-bidaah sesat. Uskup yang kudus ini wafat sekitar tahun 175.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

MENYADARI DAN MENGUPAYAKAN

Renungan Tetes Embun: Minggu, 8 Januari 2023

“Dan lihatlah, bintang yang mereka lihat di Timur itu mendahului mereka hingga tiba dan berhenti di atas tempat, di mana Anak itu berada.” (Matius 2: 9b)

Hari raya Epifani atau Penampakan Tuhan diperingati untuk merayakan pewahyuan yang diterima oleh orang-orang bijaksana dari timur tentang kelahiran sang penyelamat dunia, yakni Yesus Kristus.

Tidak seperti yang sering digambarkan dalam drama Natal, di mana orang-orang Majus mengunjungi bayi Yesus di kandang tempatnya dilahirkan bersama-sama dengan para gembala, kemungkinan besar mereka mengunjungi Yesus setelah Yesus berumur lebih dari 40 hari di rumah kediaman Yusuf dan Maria.

Rupanya mereka melihat bintang yang menandai kelahiran Yesus di tanah air mereka, yang diperkirakan berada di Persia. Mengingat jarak Persia ke Yudea bermil-mil jauhnya, maka dibutuhkan waktu beberapa minggu untuk tiba di Yerusalem, tempat mereka menemui Herodes dan bertanya tentang keberadaan sang raja yang baru lahir itu.

Pernahkah kita mengalami peristiwa serupa dengan para bijaksana dari Timur itu? Pernahkah kita melihat tanda-tanda akan kehadiran Tuhan di sekeliling kita? Mungkin bukan melalui bintang di langit, namun bisa saja melalui sepenggal syair dalam lagu, sebuah pesan media sosial yang diunggah teman kita, atau dari perbincangan dengan orang lain.

Ketika tanda kehadiran itu sudah kita sadari, apakah yang kita lakukan? Apakah kita akan seperti para bijaksana yang dengan tekun dan setia mengikuti petunjuk yang diberikan Allah? Apakah kita mengupayakan tanda yang sudah kita lihat agar menjadi kenyataan atau justru kita diamkan saja, sehingga rencana Allah tidak bisa diwujudnyatakan melalui diri kita?

Mari kita mohon petunjuk Allah agar selalu dapat menyadari tanda-tanda yang sudah disediakan di sekeliling kita, dan terlebih lagi, kita bisa mengupayakan tanda-tanda itu untuk menemukan Tuhan dan membagikannya dengan sesama.

Ya Bapa, terima kasih untuk menghadirkan para bijaksana dari timur menjadi contoh bagi kami. Bukalah mata kami akan tanda kehadiranMu, dan bantulah kami untuk mengupayakan agar kehadiranMu juga dirasakan oleh sesama kami. Amin.

Penulis: Hedwigis Belto

Pengisi: Maria Indah Stephanie

SANTO RAYMUNDUS DARI PENYAFORT

Kisah Orang Kudus 7 Januari 2023: Santo Raymundus dari Penyafort

Pada tahun 1175, sebuah keluarga bangsawan di Penyafort, Spanyol dikaruniai seorang putera yang sehat dan mungil. Anak ini dibaptis dengan nama Raymundus. Ia dididik dalam keluhuran iman dan pengetahuan Katolik.

Selanjutnya Raymundus mengenyam pendidikan retorika dan ilmu hukum dan di kemudian hari menggabungkan diri dalam Ordo Dominikan, satu ordo yang ketika itu sangat memperhatikan ilmu pengetahuan.

Pada tahun 1230, Raymundus pergi ke Roma atas undangan Sri Paus Gregorius ke 9. Oleh Sri Paus, Raymundus diangkat menjadi Bapa Pengakuannya dan di tugaskan untuk mengatur semua dekrit Gereja yang telah di terbitkan.

Sewaktu tugas itu selesai dikerjakan pada tahun 1234, Sri Paus mengesahkannya sebagai buku pegangan untuk semua lembaga pendidikan Seminari dan Universitas, yang kemudian menjadi karya klasik hukum Gereja selama 700 tahun. Setahun kemudian. Sri Paus menunjuk Raymundus sebagai Uskup Agung Tarragona, Spanyol.

Atas permohonan Raymundus sendiri, penunjukkan ini ditarik kembali. Tahun itu juga, ia kembali ke Barcelona memulai kegiatan pewartaannya menentang ajaran Kaum Sesat Albigensia. Tiga tahun kemudian, Raymundus terpilih sebagai Pemimpin tertinggi Ordo Dominikan.

Selama masa jabatannya ini, ia memperbaharui aturan – aturan ordo. Pada tahun 1240, ketika ia berusia 65 tahun, Raymundus mengundurkan diri dari jabatan itu. Raymundus mendorong santo Thomas Aquinas menyusun karyanya yang terkenal ‘Summa Contra Gentiles’.

Raymundus mendirikan Fakultas bahasa Arab dan bahasa Ibrani serta memperkenalkan bahasa Arab dan Ibrani disemua sekolah Dominikan. Dengan penuh semangat ia berkotbah membela kebenaran-kebenaran pokok Gereja, membina umatnya, mempertobatkan bangsa Moor dan Yahudi.

Sebagai pembesar Dominikan, ia sangat mendorong dan memajukan misi Gereja. Raymundus dari Penyafort wafat pada tanggal 6 Januari 1275 di Barcelona dalam usia 100 tahun.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

#kisahorangkudus #santosanta #raymunduspenyafort

BERIMAN DAN PERCAYA

Renungan Tetes Embun: Sabtu, 7 Januari 2023

“Yesus berkata kepada pelayan-pelayan itu: “Isilah tempayan-tempayan itu penuh dengan air.” Dan mereka pun mengisinya sampai penuh. Lalu kata Yesus kepada mereka: “Sekarang cedoklah dan bawalah kepada pemimpin pesta.” Lalu merekapun membawanya. Setelah pemimpin pesta itu mengecap air, yang telah menjadi anggur itu–dan ia tidak tahu dari mana datangnya, tetapi pelayan-pelayan, yang mencedok air itu, mengetahuinya.” (Yohanes 2:7-9)

Apa yang Anda bayangkan jika dalam peristiwa yang dilukiskan dalam bacaan Injil hari ini, Anda menjadi salah satu orang yang menerima perintah dari Yesus untuk mengisi tempayan-tempayan yang ada dengan air?

Apakah pada saat bersamaan, Anda meyakini bahwa Yesus mampu mengubah air dalam tempayan-tempayan tersebut menjadi anggur? Pada peristiwa di Kana, Yesus tidak hanya “melakukan mujizat” mengubah air menjadi anggur saja untuk memenuhi kebutuhan anggur pesta yang telah habis. Yesus bahkan memberikan anggur dengan kualitas terbaik kepada sang empunya pesta.

Melalui kisah tersebut kita mengetahui bahwa Yesus tidak mengerjakan segala sesuatunya seorang diri. Dia melibatkan para pelayan pesta untuk menyediakan tempayan-tempayan yang diisi dengan air.

Dalam situasi serupa di kehidupan nyata, Tuhan pun “menuntut kerjasama” kita sebagai manusia, untuk mewujudkan rencana-Nya yang indah dalam hidup kita. Sayangnya dalam kondisi-kondisi tertentu, kita menolak kerjasama ini dengan berbagai cara maupun dalih.

Tentu kita dapat menerka apa yang terjadi selanjutnya, bukan?! Di sini, Tuhan tidak menuntut segala sesuatu yang melebihi batas kemampuan kita. Tuhan hanya mengharapkan kerjasama kita agar rencana-Nya dapat terjadi dalam hidup kita dengan sempurna. Kuncinya adalah peka terhadap bisikan Roh Kudus dalam hati kita masing-masing.

Tuhan Yesus yang penuh belaskasih, terima kasih atas rahmat penebusan-Mu yang boleh kami alami. Sadarkan kami ya Tuhan, bahwa hidup kami ini sesungguhnya adalah milik-Mu semata. Ajari kami untuk peka terhadap bisikan Roh-Mu, agar segala rancangan terbaik-Mu atas diri kami dapat terwujud sempurna seturut kehendak-Mu. Semua kami mohon demi kemuliaan nama-Mu; kini, dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis: Dionisius Agus Puguh

Pengisi: A. Rangga A. Nalendra

HARI RAYA PENAMPAKAN TUHAN

Kisah Orang Kudus 6 Januari 2023: Hari Raya Penampakan Tuhan

Hari Raya Penampakkan Tuhan kepada para majus dirayakan pada tanggal 6 Januari. Sekarang perayaan ini dirayakan pada hari Minggu antara tanggal 2 sampai 8 Januari sesudah Pesta Keluarga Kudus.

Perayaan ini disebut juga Hari Raya Epifania berkenaan dengan kunjungan para majus ke Betlehem. Pada zaman Yesus istilah ‘majus’ bermakna ahli nujum.

Dalam tradisi muncul sebuah ceritera tentang Tiga Sarjana atau Tiga Raja dari Timur yang dikenal dengan nama Gaspar, Melkior dan Baltazar.

Ketiga raja itulah yang dipercayai datang ke Betlehem untuk menyembah Kanak-kanak Yesus. Mereka mempersembahkan emas, dupa dan mur, sebagai ungkapan sembah bakti mereka kepada Dia yang adalah Raja, Allah dan Manusia.

Nama ketiga orang ini tidak ada dalam naskah – naskah Kitab Suci. Injil Matius, yang dipakai sebagai sumber cerita dalam tradisi Kristen, tidak membeberkan nama ketiga orang itu.

Matius hanya secara umum mengatakan bahwa ‘Sesudah Yesus dilahirkan di Betlehem di tanah Yudea pada zaman raja Herodes, datanglah orang – orang Majus dari Timur Yerusalem dan bertanya – tanya tentang raja orang Yahudi yang baru saja dilahirkan.

Ketiga nama ini berkembang dalam tradisi dan dipakai juga oleh umat Kristiani sebagai nama pelindung. Diyakini pula ketiga orang ini layak disebut kudus sebab ketekunan mereka dalam mencari Allah yang berasal dari keturunan Raja Daud, yang memerintah alam semesta.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

ROH DAN AIR DAN DARAH

Renungan Tetes Embun: Jumat, 6 Januari 2023

Kita menerima kesaksian manusia, tetapi kesaksian Allah lebih kuat. (1 Yohanes 5:9)

Surat Pertama Rasul Yohanes sesungguhnya mengetengahkan bagaimana Allah sendiri bersaksi akan Anak yakni Yesus Kristus ketika peristiwa Pembaptisan oleh Yohanes yang dikisahkan dalam Injil Markus.

Setiap manusia juga Yesus sendiri, terdiri dari tiga elemen utama kehidupan, yakni Roh dan Air dan Darah. Hal ini sungguh nyata dari apa yang diwartakan Yohanes Pembaptis:

“Sesudah aku akan datang Ia yang lebih berkuasa dari padaku; membungkuk dan membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak. Aku membaptis kamu dengan air, tetapi Ia akan membaptis kamu dengan Roh Kudus.”

Kita semua pasti ingat ketika lambung Yesus ditusuk tombak saat bergantung di salib, yang mengalir adalah air dan darah. Yesus menyelesaikan misteri penyelamatan dengan bersabda: “Ya Bapa, ke dalam Tangan-Mu, Kuserahkan nyawa-Ku”. Nyawa adalah jiwa adalah roh.

Dalam era komunikasi digital sekarang ini, semakin menjamur di media sosial, konten-konten agamis yang saling bertentangan. Kita boleh saja menyimak tetapi tetaplah yakin bahwa kesaksian Allah lebih kuat dan sungguh nyata pada peristiwa Pembaptisan Tuhan. Pada saat Ia keluar dari air, Ia melihat langit terkoyak, dan Roh seperti burung merpati turun ke atas-Nya.

Lalu terdengarlah suara dari sorga: “Engkaulah Anak-Ku yang Kukasihi, kepada-Mulah Aku berkenan.” (Yohanes 1:10-11)

Barangsiapa percaya kepada Anak Allah, ia mempunyai kesaksian itu di dalam dirinya; barangsiapa tidak percaya kepada Allah, ia membuat Dia menjadi pendusta, karena ia tidak percaya akan kesaksian yang diberikan Allah tentang Anak-Nya. (1 Yohanes 5:10)

Tuhan, teguhkanlah iman kami selalu karena bukan kesaksian manusia yang kami terima melainkan Kesaksian-Mu sendiri. Ingatkan kami untuk senantiasa menghargai dan menghormati tiga elemen kehidupan dalam diri kami masing-masing. Amin.

Penulis: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru
Pengisi: A. Rangga A. Nalendra