SANTO YOHANES NEUMANN

Kisah Orang Kudus 5 Januari 2023: Santo Yohanes Neumann

Yohanes dilahirkan pada tanggal 28 Maret 1811 di Bohemia. Orangtuanya adalah Filipus dan Agnes Neumann. Yohanes mempunyai empat orang saudari dan seorang saudara kandung. Setelah lulus dari sekolah, Yohanes masuk seminari.

Ketika tiba saatnya untuk ditahbiskan, Bapa Uskup jatuh sakit. Sesudahnya, tanggal pentahbisannya tidak pernah ditetapkan lagi, karena pada saat itu, Bohemia sudah memiliki banyak imam.

Yohanes membaca tentang karya-karya misi di Amerika Serikat, jadi ia memutuskan untuk pergi ke Amerika agar dapat ditahbiskan. Dengan berjalan kaki ia menempuh hampir seluruh perjalanannya ke Perancis, lalu menumpang kapal yang menuju Eropa.

Yohanes tiba di Manhattan pada tanggal 9 Juni 1836. Uskup Yohanes Dubois amat gembira menyambut kedatangannya. Hanya ada tigapuluh enam imam untuk melayani dua ratus ribu umat Katolik yang tinggal di negara bagian New York dan sebagian New Jersey.

Enambelas hari setelah kedatangannya, Yohanes ditahbiskan sebagai imam dan diutus ke Buffalo. Di sana ia akan membantu Pastor Pax melayani parokinya yang luasnya sembilan ratus meter persegi.

Pastor Pax memberinya kebebasan untuk memilih antara kota Buffalo atau daerah pedesaan. Watak Yohanes yang gagah berani mulai kelihatan. Yohanes memutuskan untuk tinggal di sebuah kota kecil dengan sebuah gereja yang belum selesai dibangun.

Pada saat gereja itu selesai pembangunannya, ia pindah ke kota lain dengan gereja yang dibangun dari balok-balok kayu. Di sana ia mendirikan bagi dirinya sendiri sebuah kamar kecil berdinding kayu. Yohanes Hampir tidak pernah menyalakan api dan seringkali hanya makan roti serta air saja.

Ia juga tidur hanya beberapa jam saja setiap malam. Pertanian-pertanian di daerahnya, jaraknya jauh antara yang satu dengan yang lain. Yohanes harus berjalan kaki menempuh perjalanan yang panjang agar dapat mengunjungi umatnya. Mereka adalah orang-orang Jerman, Perancis, Irlandia dan Skotlandia.

Yohanes bergabung dengan Kongregasi Pater-Pater Redemptoris dan melanjutkan karya misinya. Ia diangkat menjadi Uskup Philadelphia pada tahun 1852. Uskup Neumann mendirikan lima puluh gereja dan mulai membangun sebuah katedral.

Ia mendirikan hampir seratus sekolah dan meningkatkan jumlah murid sekolah paroki dari 500 anak ke 9000 anak. Kesehatan Uskup Neumann tidak pernah prima, namun demikian orang tetap saja amat terkejut mendengar berita kematiannya yang tiba-tiba pada tanggal 5 Januari 1860.

Uskup Neumann sedang berjalan kaki pulang dari suatu pertemuan ketika ia jatuh rebah ke tanah karena stroke. Bapa Uskup segera dibawa ke sebuah rumah terdekat dan wafat di sana pada pukul tiga sore.

Bulan Maret berikutnya, akan merupakan hari ulang tahun Uskup Neumann yang keempatpuluh Sembilan. Yohanes Neumann dinyatakan kudus oleh Paus Paulus ke enam pada tanggal 19 Juni 1977.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

DIPANGGIL MENJADI MURIDNYA

Renungan Tetes Embun: Kamis, 5 Januari 2023

“Pada keesokan harinya Yesus memutuskan untuk berangkat ke Galilea. Ia bertemu dengan Filipus, dan berkata kepadanya: “Ikutlah Aku!” Filipus itu berasal dari Betsaida, kota Andreas dan Petrus. Filipus bertemu dengan Natanael dan berkata kepadanya: “Kami telah menemukan Dia, yang disebut oleh Musa dalam kitab Taurat dan oleh para nabi, yaitu Yesus, anak Yusuf dari Nazaret” (Yohanes 1: 43-45)

Apa yang terbersit dalam pikiran Anda mengenai bacaan Injil hari ini? Dalam Injil hari ini dikisahkan tentang peristiwa perjumpaan Yesus dengan sejumlah orang yang di kemudian hari dikenal sebagai keduabelas rasul-Nya.

Mengapa Yesus memilih duabelas orang sebagai rasul-rasul-Nya? Mengapa jumlah rasul-Nya hanya duabelas orang? Bukankah Yesus bisa saja memanggil lebih dari 12 orang untuk mendampingi tugas dan karya pewartaan-Nya?

Jika ditelaah lebih lanjut, angka 12 yang menjadi angka bilangan para rasul merupakan angka simbolis. Dalam Kitab Kejadian maupun Keluaran disebutkan bahwa Israel terdiri dari 12 suku. Dan Yesus memilih keduabelas rasul-Nya sebagai lambang bahwa Dia hendak membangun kembali suku-suku Israel tersebut.

Akhirnya julukan “keduabelasan” disematkan kepada para rasul yang mendampingi Yesus, meskipun di kemudian hari – Yudas berkhianat kepada-Nya!

Misi pewartaan Kabar Gembira tidak bisa kita pelajari hanya dari buku-buku semata. Melainkan diperlukan juga relasi personal yang erat di antara kita dan Yesus dalam hubungan “murid dan Guru”.

Kita semua diutus oleh-Nya bukan untuk menjadi “tuan”, namun diutus sebagai “hamba” yang bertugas untuk melayani sesama dan Gereja-Nya.

Dan pelayanan yang dituntut dari kita adalah pelayanan penuh kasih dan rendah hati, seturut
teladan yang diberikan-Nya.

Ya Tuhan, Allah kami, ajarilah kami setiap hari agar menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati dan penuh kasih terhadap sesama. Ya Tuhan, kami sadar, sebagai seorang manusia – kami rapuh dan tak
berdaya. Berikanlah kekuatan yang kami perlukan, untuk menjalankan tugas kami sebagai murid-
murid-Mu. Semua kami mohon demi kemuliaan nama-Mu; kini, dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis: Dionisius Agus Puguh – Pengisi: Aloysius Rangga Aditya Nalendra

SANTA ELIZABETH ANN SETON

Kisah Orang Kudus 4 Januari 2023: Santa Elizabeth Ann Seton

Elizabeth dilahirkan di New York pada 28 Agustus 1774. Ayahnya bernama, Richard Bayley, ia adalah seorang dokter yang tersohor. Elizabeth seorang jemaat Episcopal. Semasa remaja, ia melakukan banyak hal untuk menolong orang-orang miskin.

Pada tahun 1794, Elizabeth menikah dengan William Seton. William adalah seorang saudagar kaya-raya yang memiliki suatu armada kapal laut. Elizabeth, William, beserta kelima anak mereka hidup berbahagia.

Kemudian William jatuh bangkrut dan sakit parah dalam waktu yang singkat. Elizabeth mendengar bahwa cuaca Italia mungkin dapat membuat keadaan suaminya lebih baik. Maka, Elizabeth, William berserta puteri tertua mereka, Anna, melakukan perjalanan ke Italia dengan kapal laut. Tetapi, William meninggal dunia tak lama kemudian. Elizabeth dan Anna untuk sementara waktu tetap tinggal di Italia sebagai tamu keluarga Filicchi.

Keluarga Filicchi amat baik hati. Mereka berusaha meringankan penderitaan Elizabeth dan Anna dengan membagikan cinta mereka yang mendalam akan iman Katolik. Elizabeth pulang kembali ke New York dengan tekad bahwa ia akan menjadi seorang Katolik. Keluarga serta teman-temannya menentang Elizabeth. Mereka amat kecewa mendengar keputusannya, tetapi Elizabeth maju terus dengan berani.

Elizabeth bergabung dalam Gereja Katolik pada tanggal 4 Maret 1805. Beberapa tahun kemudian, Elizabeth dimintai tolong untuk datang serta membuka sebuah sekolah putri di Baltimore. Di sanalah Elizabeth memutuskan untuk hidup sebagai seorang biarawati.

Banyak perempuan yang datang untuk bergabung dengannya, termasuk saudarinya dan juga saudari iparnya. Puteri-puterinya sendiri, Anna dan Katarina, juga bergabung pula. Mereka membentuk Suster-suster Puteri Kasih Amerika dan Elizabeth diangkat sebagai pemimpin mereka dan dipanggil ‘Moeder Seton’.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

APAKAH YANG KAMU CARI?

Renungan Tetes Embun: Rabu, 4 Januari 2023

Barang siapa yang berbuat kebenraan adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar (1Yohanes 3:7)

Sobat Katolikana, sejenak kita bayangkan yuk, apa jawaban yang akan kita
berikan jika ada di posisi kedua murid pertama dan ditanya, “Apakah yang kamu
cari?” (Yohanes 1:38)
Jawabannya pasti beraneka ragam banget. Satu hal yang pasti ya, hendaknya apa pun yang kita cari, janganlah sampai membuat kita jatuh ke dalam dosa. Anak-anakku, janganlah membiarkan seorang pun menyesatkan kamu (1Yohanes 3:7)

Sejak zaman Adam iblis terus berjuang menyesatkan dan menjatuhkan manusia ke dalam dosa. Dalam Surat Pertama Rasul Yohanes dinyatakan, “Barangsiapa yang tetap berbuat dosa, berasal dari Iblis, sebab
Iblis berbuat dosa dari mulanya.” (1Yohanes 3:8) dan “Setiap orang yang tidak berbuat kebenaran, tidak berasal dari Allah, demikian juga barangsiapa yang tidak mengasihi saudaranya.” (1Yohanes 3:10)

Bagaimana cara kita memagari diri dari kesesatan yang mengarah kepada dosa? Belajar yuk, dari jawaban kedua murid, “Rabi (artinya: Guru), di manakah Engkau tinggal?”

Mari bukalah pintu hati dan biarkan Tuhan tinggal. Biarlah benih ilahi tetap ada di dalam kita sehingga kita berbuat kebenaran yang adalah benar, sama seperti Kristus adalah benar. Jika Tuhan telah tinggal dan bertahta di hati kita maka tiada seseorang atau sesuatu yang akan menyesatkan kita.

Kita bisa membuka pintu hati jika meyakini sepenuh iman bahwa kita telah menemukan Mesias sehingga kita pun bisa seperti Petrus yang tegar seperti batu karang dalam mempertahankan iman.

Tuhan, ajarkanlah kami setia kepada kebenaran dalam setiap ucap, sikap, pikir, dan laku seturut Kehendak-Mu, Sang Maha Kebenaran Ilahi. Amin.

Penulis: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru

Pengisi: Benedictus Isworohadi

PESTA NAMA YESUS YANG TERSUCI

Kisah Orang Kudus 3 Januari 2023: Pesta Nama Yesus Yang Tersuci

Nama yang suci penuh kuasa dimaklumkan oleh Malaikat Agung santo Gabriel kepada Maria. Ketika Gabriel mengunjungi Maria, Ia berkata: “Hendaklah engkau menamai Dia Yesus.”

Pesan yang sama disampaikan malaikat kepada Yosef. Malaikat Gabriel menyebutkan bahwa Maria akan melahirkan anak laki – laki dan akan dinamakan Yesus, karena Dia lah yang akan menyelamatkan manusia dari dosa.

Sesudah Maria melahirkan Yesus di kandang Betlehem, mereka pun memberi-Nya Nama Yesus, seperti yang disampaikan malaikat. Nama Yesus unik dan eksklusif. Maknanya adalah Penebus dan Penyelamat. Nama itu dipadukan dengan Kristus, yang artinya ‘Yang Diurapi’.

Santo Paulus memulai devosi kepada Nama Yesus. Devosi ini kemudian diikuti pula oleh Santo Bernardus, Santo Bernadinus, Santo Yohanes Kapistrano dan Santo Ignatius dari Loyola dan berkembang hingga sekarang.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

MENJADI SAKSINYA YANG HIDUP

Renungan Tetes Embun: Selasa, 3 Januari 2023

“Dan Yohanes memberi kesaksian, katanya: “Aku telah melihat Roh turun dari langit seperti merpati, dan Ia tinggal di atas-Nya. Dan akupun tidak mengenal-Nya, tetapi Dia, yang mengutus aku untuk membaptis dengan air, telah berfirman kepadaku: Jikalau engkau melihat Roh itu turun ke atas seseorang dan tinggal di atas-Nya, Dialah itu yang akan membaptis dengan Roh Kudus.” (Yohanes 1: 32-33)

Melalui bacaan Injil hari ini, kita diajak untuk melihat peristiwa yang terjadi sekitar 2000 tahun silam; di mana Yesus menerima pembaptisan dari Yohanes Pembaptis. Kala itu Yesus menerima baptisan di Sungai Yordan – bersama warga lainnya yang datang berbondong-bondong ke tempat tersebut.

Kehadiran Yohanes Pembaptis hendak menggenapi nubuat yang disampaikan oleh Nabi Yesaya, bahwa akan ada orang yang berseru-seru di padang gurun. Paus Emeritus Benediktus XVI dalam karyanya yang berjudul “Jesus of Nazareth” menegaskan bahwa peristiwa pembaptisan Yesus memiliki hubungan erat dengan peristiwa salib: “Dalam terang salib dan kebangkitan, orang-orang Kristen menyadari apa yang terjadi: Yesus memikul beban kesalahan seluruh umat manusia di pundak-Nya; Dia membawanya ke dasar Sungai Yordan.”

Melalui peristiwa pembaptisan Yesus, Allah yang telah menjadi manusia itu “mengosongkan” diri-Nya, mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama sebagai manusia.

Santo Gregrorius dari Nyssa menegaskan bahwa tindakan Yesus merupakan ajakan sekaligus contoh
bagi umat manusia agar manusia menyucikan dirinya dari dosa dan kejahatan.

Senada dengan apa yang ditegaskan Santo Gregorius di atas, mari menjadi saksi-saksi-Nya yang hidup dengan mewartakan Sabda Allah hingga ke ujung dunia.

Ya Tuhan, terima kasih atas semua yang telah Engkau ajarkan melalui Injil yang Engkau beritakan. Semoga kami dapat terus menjadi saksi-saksi-Mu untuk menyebarkan Injil kepada sesama kami seturut perintah-Mu. Semua kami mohon demi kemuliaan nama-Mu; kini, dan sepanjang segala masa. Amin.

SANTO BASILIUS AGUNG DAN SANTO GREGORIUS DARI NAZIANZE

Kisah Orang Kudus 2 Januari 2023: Santo Basilius Agung dan Santo Gregorius dari Nazianze

Basilius dan Gregorius dilahirkan di Asia Kecil pada tahun 330. Keluarga Basilius: nenek, ayah, ibu, dua saudara serta seorang saudarinya semuanya adalah orang kudus. Sedangkan orangtua Gregorius adalah Santa Nonna dan Santo Gregorius Tua.

Basilius dan Gregorius saling bertemu dan menjadi sahabat karib di sekolah di Athena-Yunani. Basilius kemudian menjadi seorang guru yang tersohor.

Suatu hari, saudarinya yaitu Santa Makrina, menyarankan agar ia menjadi seorang biarawan. Basilius mendengarkan nasehat baik saudarinya, lalu ia pergi ke tempat yang sunyi dan di sana mendirikan biaranya yang pertama.

Regula atau peraturan biara yang ditetapkannya bagi para biarawannya amatlah bijaksana. Biara-biara Gereja Timur masih menerapkannya hingga saat ini.

Basilius dan Gregorius, keduanya menjadi imam dan kemudian Uskup. Mereka dengan berani berkhotbah menentang bidaah Arianisme yang menyangkal bahwa Yesus adalah Tuhan. Ajaran sesat ini membingungkan banyak orang.

Ketika menjadi Uskup Konstantinopel, Gregorius mempertobatkan banyak orang dengan khotbah-khotbahnya yang mengagumkan. Hal itu membuatnya hampir saja kehilangan nyawanya.

Seorang pemuda berencana untuk membunuh Gregorius. Pada saat-saat terakhir, pemuda tersebut bertobat serta memohon pengampunan dari Gregorius. Santo Gregorius sungguh mengampuninya serta membawanya ke jalan yang benar dengan kelemahlembutan serta kebaikan hatinya.

Empatpuluh empat khotbah Santo Gregorius, 243 suratnya, serta banyak puisinya kemudian diterbitkan. Buah penanya masih amat penting hingga saat ini. Banyak penulis mendasarkan karya-karya mereka pada buah penanya itu.

Basilius, sahabat Gregorius, seorang yang amat lembut serta murah hati. Ia selalu menyediakan waktu untuk menolong kaum miskin papa. Ia bahkan mendorong orang-orang miskin itu untuk menolong mereka yang lebih miskin dari mereka sendiri.

Basilius menyumbangkan segala miliknya dan membuka sebuah dapur umum. Di sana orang sering melihatnya mengenakan celemek dan melayani mereka yang lapar. Basilius wafat pada tahun 379 dalam usia empat puluh sembilan tahun. Sementara Gregorius wafat pada tahun 390 dalam usia enam puluh tahun.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

HIDUP YANG KEKAL

Renungan Tetes Embun: Senin, 2 Januari 2023

Luruskanlah jalan Tuhan! Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nya pun aku tidak layak. (Yohanes 1: 23, 27)

Di hari kedua tahun 2023 ini, pasti ada yang sudah kembali ke rutinitas dan ada yang masih melengkapi kebersamaan dengan keluarga.

Apa pun aktivitas kita ternyata Bacaan dari Surat Pertama Rasul Yohanes dan dari Injil Yohanes tetap mengingatkan agar jangan pernah ada dusta … hmmm ini bukan lirik salah satu lagu tempo dulu ya.

Kita harus hidup jujur karena dalam Surat Pertama Rasul Yohanes hari ini telah diingatkan bahwa kita telah mengakui dan mengimani Tuhan yang Hidup dan Benar tanpa dusta.

Jika kita sungguh mengimani apa yang disampaikan dalam Surat Pertama Rasul Yohanes maka kita juga yakin bahwa kehidupan kita di dunia hanyalah jalan menuju Hidup yang Kekal. Bagaimana kita menuju ke sana?

Pastinya melalui Jalan Tuhan yang lurus, sebagaimana disampaikan dalam Injil Yohanes.

Yohanes Pembaptis mewartakan tentang kehadiran Tuhan dalam Kristus Yesus, “Dia, yang datang kemudian dari padaku. Membuka tali kasut-Nyapun aku tidak layak.” (Yohanes 1:27

Sobat Katolikana pasti sadar sepenuh bahwa kita sepenuhnya adalah Hamba Tuhan sebagaimana diteladankan Bunda Maria.

Mari meneladani perwira yang memohon hambanya disembuhkan. Walau iman kita hanya sebesar biji sesawi, luruskanlah jalan hidup kita agar sesuai Kehendak Tuhan.

Semoga pada saat-Nya kita layak menyambut Dia yang akan datang serta memasuki Hidup yang Kekal.

Tuhan, kuatkanlah kami tetap setia hidup dalam kejujuran. Bantulah kami meluruskan jalan hidup seturut Kehendak-Mu dengan iman yang hanya sebesar biji sesawi. Perkenankanlah kami senantiasa menyadari bahwa kami adalah Hamba Tuhan, terjadilah sesuai Kehendak Ilahi semata. Amin.

Penulis: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru
Pengisi: Benedictus Isworohadi

SANTA PERAWAN MARIA BUNDA ALLAH

Kisah Orang Kudus 1 Januari 2023: Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah

Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah mengingatkan kita akan bidaah atau ajaran sesat tentang Kebundaan Ilahi Maria, yang muncul pada abad ke 5. Pokok ajaran bidaah ini ialah bahwa Maria memang Bunda Yesus, tetapi bukan Bunda Allah.

Dalam Konsili Efesus pada tahun 431, ajaran sesat ini dikutuk. Konsili tetap dengan teguh mempertahankan ajaran yang benar, yaitu bahwa Maria adalah Bunda Allah atau Theotokos, karena Yesus Anaknya adalah sungguh-sungguh Allah.

Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah ditetapkan oleh Paus Pius XI pada hari ulang tahun ke-1500 Konsili Efesus. Merayakan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah juga berarti bahwa kita mengakui Yesus sebagai ‘sungguh-sungguh Allah dan sungguh-sungguh Manusia’.

Kemuliaan Maria sebagai Bunda Allah adalah cermin kemuliaan Anaknya, yaitu Yesus, Tuhan dan Penebus umat manusia.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

MENELADANI BUNDA MARIA

Renungan Tetes Embun: Minggu, 1 Januari 2023

“Dan ketika mereka melihat-Nya, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu. Dan semua orang yang mendengarnya heran tentang apa yang dikatakan gembala-gembala itu kepada mereka. Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” (Lukas 2: 17-19)

Bacaan Injil hari ini mengajak kita semua untuk kembali merenungkan kisah kelahiran Yesus di Betlehem. Dalam kisah tersebut, kita dapat menyaksikan bagaimana peran Bunda Maria di dalamnya – dalam menanggapi dan menerima dengan penuh sukacita, rencana Tuhan atas dirinya.

Konsili Efesus tahun 431 menetapkan dogma Maria Bunda Allah. Seribu lima ratus tahun kemudian, Paus Pius XI menetapkan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah. Pada awalnya liturgi ini diperingati setiap tanggal 11 Oktober, namun dalam pembaharuan liturgi 1970, peringatan ini dipindahkan ke tanggal 1 Januari.

Gelar “Bunda Allah” menguatkan misteri inkarnasi: Yesus adalah Sabda yang pada awal mulanya bersama Allah, kini menjadi daging dan tinggal di antara kita. Yesus adalah sungguh Allah dan sungguh manusia.

Melalui perayaan Hari Raya Santa Perawan Maria Bunda Allah setiap tanggal 1 Januari, maka seluruh tahun yang akan kita lalui kita letakkan di bawah doa perlindungan yang penuh kuasa dari Bunda Maria yang melahirkan Putera Allah.

Gereja Katolik juga merayakan tanggal 1 Januari sebagai Hari Perdamaian Sedunia yang mulai dirayakan sejak tahun 1968 pada masa kepemimpinan Paus Paulus VI. Melalui perayaan ini, Gereja dibantu oleh Bunda-Nya memohon kepada Allah untuk mengaruniakan damai yang sejati kepada seluruh dunia.

Mari meneladani Bunda Maria, dengan jalan menjadi duta perdamaian di mana pun kita berada dan tinggal. Tentu untuk menjadi duta damai ini diperlukan niat, tekad, dan semangat untuk sungguh-sungguh menjalankan dan mewujudkannya.

Langkah pertama yang harus kita lakukan adalah berdamai dengan diri sendiri. Setelah kita mampu menjadi seorang pribadi yang diliputi kedamaian hati, maka tugas selanjutnya akan terasa lebih mudah untuk kita tempuh, yaitu menjadi duta-duta perdamaian bagi sesama; seperti yang diteladankan oleh Bunda Maria.

Ya Tuhan, bantulah kami pribadi lepas pribadi, agar kami selalu dimampukan untuk menimba kedamaian sejati yang bersumber daripada-Mu. Kami sadar bahwa sebagai seorang manusia, kami diliputi keterbatasan dalam banyak hal. Mampukan kami yang Tuhan, untuk menjadi utusan-Mu: sebagai “duta-duta damai” bagi sesama kami. Semua kami mohon demi kemuliaan nama-Mu; kini, dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis: Dionisius Agus Puguh
Pengisi: Benedictus Isworohadi