SANTA MELANIA

Kisah Orang Kudus 31 Desember 2022: Santa Melania

Melania dilahirkan sekitar tahun 383 di Roma sebagai puteri Publicola anak Santa Melania Tua dan Albina, suami isteri Kristen yang kaya dan saleh.

Dalam usia tigabelas tahun, Melania dinikahkan dengan Valerius Pinianus. Mereka dikaruniai dua anak. Melania amat lembut hati, penuh pengabdian dan berjiwa sosial. Sifat sosialnya itu menjadikannya tak disenangi kaum kerabatnya.

Setelah kedua anak Melania meninggal dunia dalam usia muda, orangtua Melania dapat menerima bahkan meneladani cara hidup puterinya. Mereka banyak beramal untuk Gereja dan kaum miskin. Kekayaan mereka dijual untuk membebaskan ratusan budak belian.

Pada tahun 410, ketika Roma diserang oleh tentara Visigoth, mereka mengungsi ke Thagaste, Afrika Utara, di mana mereka bertemu dengan santo Agustinus dari Hippo. Pada tahun 417, rasa keagamaan dan sosial yang kuat mendorong mereka untuk pindah ke Yerusalem dan tinggal dekat makam suci Yesus.

Sesudah suaminya meninggal dunia pada tahun 432, Melania mendirikan biara di Bukit Zaitun. Ia juga mendirikan dua biara lain di Afrika, untuk perempuan dan laki-laki.

Sebagian besar waktunya digunakan Melania untuk menyalin buku-buku keagaman. Ia juga menjalin hubungan baik dengan St Paulinus dari Nola, St Agustinus dan St Hieronimus. Ia wafat pada tahun 439 di Betlehem, sepekan sesudah merayakan Natal.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

WAKTU YANG TERAKHIR: TERANG

Renungan Tetes Embun: Sabtu, 31 Desember 2022

Anak-anakku, waktu ini adalah waktu yang terakhir, dan seperti yang telah kamu dengar, seorang antikristus akan datang, sekarang telah bangkit banyak antikristus. Itulah tandanya, bahwa waktu ini benar-benar adalah waktu yang terakhir. (1 Yohanes 2:18)

Bacaan Injil pada penghujung tahun ternyata sama persis dengan Bacaan Injil Hari Raya Natal yaitu dari Yohanes 1:1-18 mengisahkan tentang Sang Terang. Bagaimanakah benang merahnya dengan waktu yang
terakhir?

Sobat Katolikana pasti masih ingat bagaimana kita merayakan Natal dan Tahun Baru pada 2020 dan 2021 dalam situasi Pandemi COVID-19. Syukur kepada Tuhan bahwa pada 2022 ini kita bisa merayakan sebagaimana biasa walau tetap masih ada yang khawatir dan takut-takut.

Beraneka ragam berita positif dan negatif bermunculan mengenai berbagai peristiwa yang telah terjadi baik di bumi Nusantara atau di dunia. Sadarkah bahwa setiap menjelang akhir tahun senantiasa semakin marak beraneka berita terutama yang membuat kita khawatir dan miris?

Sobat Katolikana pasti ingat bahwa waktu yang terakhir memang sangat banyak disampaikan dalam Kitab Suci. Nah, jangan lupa, Kitab Suci juga mewartakan kehadiran Sang Terang akan mengubah waktu terakhir yang menakutkan.

Akhir zaman yang sesungguhnya adalah otoritas sepenuhnya Sang Maha. Mari kita mengakhiri tahun ini dengan sepenuh mengimani Terang yang sesungguhnya, yang menerangi setiap orang, sedang datang ke dalam dunia (Yohanes 1:9).

Tuhan, kami percaya bahwa tidak ada dusta yang berasal dari kebenaran. Bantulah kami semakin setia menjadi terang bagi sesama dengan berbagi kasih karunia demi kasih karunia yang telah kami terima dari kepenuhan-Mu. Amin.

Penulis: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru
Pengisi : Ignacia Lola’ Tandirerung

SANTO THOMAS BECKET

Kisah Orang Kudus 30 Desember 2022: Santo Thomas Becket

Thomas Becket dilahirkan pada tahun 1118 di London, Inggris. Sewaktu masih diakon, Thomas menjadi sahabat dan penasehat Raja Henry II dari Inggris. Raja mengusulkan agar Thomas diangkat menjadi Uskup Cantebury.

Begitu diangkat menjadi uskup, Thomas langsung menarik diri dari kegiatan politik agar dapat memusatkan perhatian pada hal-hal rohani. Ia membela hak-hak Gereja dari rongrongan raja.

Karena tidak mau menandatangani dokumen tentang hak campur tangan pemerintah dalam urusan gerejani, Thomas dituduh tidak setia. Thomas naik banding kepada paus dan melarikan diri ke Perancis.

Thomas akhirnya diizinkan pulang. Tetapi ia tak hendak mengampuni uskup-uskup yang dibebaskan olehnya karena memihak raja, sebelum mereka bersumpah setia kepada Paus. Hal ini membuat raja amat murka. Raja menyuruh empat perwira berangkat ke Cantebury untuk membunuh sang uskup.

Ketika itu Thomas sedang melakukan ibadat sore di dalam katedralnya. Empat perwira itu segera menyergap dan membunuh Uskup Thomas di depan Sakramen Mahakudus. Uskup Thomas Becket wafat pada tahun 1170.

Raja Henry merasa puas dengan pembunuhan itu. Namun suara hatinya terus mengusik batinnya sehingga pada tahun 1172 ia membatalkan Konstitusi Clarendon dan melakukan pertobatan di hadapan seluruh umat.

Penulis : Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

KASIH, KETAATAN

Renungan Tetes Embun: Jumat, 30 Desember 2022

“… pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya… dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang memersatukan dan menyempurnakan…” (Putra Sirakh 3:13 dan Kolose 3:14)

Gereja Katolik memeringati hari kelima setelah Natal sebagai Pesta Keluarga Kudus.

Bacaan dari Kitab Putra Sirakh dan Surat Rasul Paulus kepada Umat di Kolose mengingatkan bagaimana kita semua harus mengasihi dan memerlakukan orang tua kita. Bacaan Injil mengisahkan bagaimana Santo
Yusuf sebagai kepala keluarga begitu mengasihi dan menjaga Bunda Maria dan bayi Yesus dengan penuh ketaatan akan setiap pesan Sang Maha.

Ketiga bacaan hari ini, semua mengetengahkan dinamika kehidupan dalam keluarga, dengan contoh Keluarga Kudus Nazareth. Kita semua lahir dari seorang Ibu dan dibesarkan oleh orang tua baik kandung atau bukan.

Dalam berbagai wacana pengetahuan dijelaskan bahwa siklus kehidupan manusia pada masa tuanya akan kembali seperti anak kecil bahkan bayi.

Nah, tahukan bagaimana anak-anak terlebih bayi sangat bergantung pada orang dewasa. Pun pula kalau akalnya sudah berkurang hendaklah kaumaafkan, jangan menistakannya sewaktu engkau masih berdaya Putra Sirakh 3:13.

Hal tersebut hanya akan dapat kita lakukan jika kita mengenakan kasih, sebagai pengikat yang memersatukan dan menyempurnakan Kolose 3:14. Kasih akan memampukan kita melakukan segala dengan setia menaati perintah Tuhan sebagaimana diteladankan oleh Keluarga Kudus Nazaret dalam Injil Matius.

Jangan pernah berhenti mengasihi siapa pun terlebih orang tua ya, itu adalah salah satu bentuk ketaatan kita akan perintah-Nya.

Tuhan, ajarlah kami senantiasa menaati setiap perintah-Mu, yang terutama berkenaan kasih. Mampukan kami menjaga harta yang paling berharga yaitu keluarga kami masing-masing sebagai Gereja yang hidup. Amin.

Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru

Pengisi : Ignacia Lola’ Tandirerung

RAJA DAUD

Kisah Orang Kudus 29 Desember 2022: Raja Daud

Daud berarti ‘yang terkasih’. Ia adalah raja kedua Israel dan yang terbesar sekitar tahun 1010 sampai 970 Sebelum Masehi. Ia seorang dari Efrata, Betlehem dan anak bungsu Isai.

Orang Israel sangat mencintai Daud sebab ia berhasil mengalahkan Goliat, panglima perang bangsa Filistin. Sesudah Saul meninggal, Daud menggantikannya.

Tujuh tahun kemudian Daud menaklukkan suku bangsa Yebus dan merebut Yerusalem. Raja pindah ke Yerusalem. Di sana ia menikahi Batsyeba, yang melahirkan Salomo, raja yang bijaksana itu.

Daud menyatukan suku-suku utara dan selatan menjadi satu bangsa. Ia memindahkan Tabut Perjanjian Allah dan mempersiapkan pembangunan kenisah pusat. Ia membentuk suatu pasukan yang tangguh, nyaris seluruh daerah barat Sungai Yordan ditaklukkannya.

Daud wafat sekitar tahun 973 dalam usia 70 tahun dan digantikan oleh Salomo, putranya dari mantan isteri Uria. Makamnya masih dikenal pada zaman Nehemia dan pada masa Kristus Yesus. Daud adalah leluhur Yesus melalui Yosef.

Daud juga dikenal sebagai nabi dan dianggap sebagai pengarang Mazmur. Dalam Mazmur termuat banyak sekali nubuat yang di kemudian hari digenapi dalam diri Yesus Kristus, orang Nazaret, Putra Yosef dan Maria.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

ANAK-ANAK TERANG DAN PEDANG

Renungan Tetes Embun: Kamis, 29 Desember 2022

… terang yang benar telah bercahaya dan suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak oarang.

(1 Yohanes 2:8 dan Lukas 2:35)

Sobat Katolikana, ingat sabda, “Percayalah kepada terang itu, selama terang itu ada padamu, supaya kamu menjadi anak-anak terang” (Yohanes 12:36)?

Kita adalah anak-anak terang yang benar telah bercahaya yaitu terang yang menjadi penyataan bagi bangsa-bangsa lain dan menjadi kemuliaan bagi umat-Mu, Israel.”

Surat Pertama Rasul Yohanes pada hari ini, menjelaskan bagaimana kita harus hidup sebagai anak-anak terang, sebagaimana Rasul Paulus juga menjelaskan dalam surat kepada Umat di Efesus.

Bunda Maria adalah salah satu teladan kita sebagai anak-anak terang. Kitab Suci mengisahkan bagaimana perjalanan iman Bunda Maria yang begitu berserah dan menaati firman sejak masih sangat muda. Sekian misteri awal penyelamatan dilalui sejak menerima warta dari Malaikat Gabriel.

Walau tidak sepenuh memahami kehendak Tuhan, Bunda Maria tetap berserah dan menyimpan semua tanya dalam hati dengan penuh iman. Simeon mengingatkan Bunda Maria suatu pedang akan menembus jiwamu sendiri, supaya menjadi nyata pikiran hati banyak orang.”

Lukas 2:35: Sesungguhnya Simeon menubuatkan apa yang akan dirasakan Bunda Maria saat menerima dan memangku jenazah Yesus dari kayu salib.

Karena kita adalah anak-anak terang yang benar telah bercahaya maka wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup sebagaimana kita baca dalam Kitab Suci.

Tuhan, Sang Terang yang benar telah bercahaya, bantulah kami senantiasa berupaya memancarkan sinar kemuliaan-Mu bagi sesama melalui setiap pikir, ucap, sikap, dan laku dalam hidup kami walau banyak cobaan akan kami terima. Amin.

Penulis: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru
Pengisi: Ignacia Lola’ Tandirerung

PESTA KANAK KANAK YESUS

Kisah Orang Kudus 28 Desember 2022: Pesta Kanak Kanak Suci

Ketika Yesus dilahirkan di Betlehem, para Majus datang dari timur untuk menyembah-Nya. Sebagian berpendapat bahwa mereka adalah para raja, sebagian lagi berpendapat bahwa mereka adalah para ahli bintang. Para Majus itu menghadap Herodes, sang raja, untuk mencari raja orang Yahudi yang baru dilahirkan, yaitu sang Juruselamat.

Herodes adalah seorang penguasa yang licik serta kejam. Ketika didengarnya Para Majus itu berbicara tentang seorang raja yang baru dilahirkan, ia mulai khawatir akan kehilangan tahtanya.

Tetapi, ia tidak membiarkan para Majus itu mengetahui apa yang sedang dipikirkannya. Ia memanggil para imam besar serta menanyakan kepada mereka di manakah menurut Kitab Suci sang Mesias akan dilahirkan.

Para imam menjawab : “Betlehem.” Herodes meminta mereka pergi dan menyelidiki dengan seksama hal-hal mengenai Anak itu, dan meminta mereka untuk mengabarkan kepadanya setelah Para Majus itu menemukan Yesus.

Para Majus melanjutkan perjalanan mereka. Mereka menemukan Yesus, Sang Mesias, bersama dengan Maria dan Yusuf. Mereka menyembah Dia serta menyampaikan persembahan mereka.

Sementara itu, mereka diperingatkan dalam mimpi untuk tidak kembali kepada Herodes. Dan seorang malaikat datang memberitahu Yusuf untuk membawa Maria serta Bayi Yesus ke Mesir. Dengan demikian, Tuhan menggagalkan rencana pembunuhan Herodes terhadap Putera Allah.

Ketika Herodes sadar bahwa Para Majus tidak kembali kepadanya, ia menjadi amat marah. Ia seorang yang jahat dan bengis, dan kini rasa khawatir akan kehilangan tahtanya menjadikan kemarahannya semakin hebat. Ia menyuruh para prajuritnya untuk membunuh semua bayi laki-laki di Betlehem dengan harapan Mesias juga akan mati terbunuh.

Para prajurit melaksanakan perintah yang menyebabkan banjir darah itu. Suatu kepedihan yang dahsyat meliputi kota kecil Betlehem, sementara para ibu menangisi bayi-bayi mereka yang mati terbunuh. Kanak-kanak kecil itu oleh Gereja dihormati sebagai martir. Gereja menyebut mereka sebagai Kanak-kanak Suci.

Penulis : Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

TERANG, PENGANTARA, FIRMAN

Renungan Tetes Embun: Rabu, 28 Desember 2022

“… sampai Aku berfirman kepadamu…” (Matius 2:13)

Dalam Kalender Liturgi Gereja Katolik, hari ketiga setelah Natal diperingati sebagai Pesta Kanak-kanak Suci. Kanak-kanak yang secara membabi-buta dibunuh karena Herodes begitu takut kehilangan kekuasaannya.

Yusuf awalnya belum sepenuh menyadari bahaya yang mengincar bayi Yesus. Pernahkah Sobat Katolikana berada dalam situasi kritis seperti yang dialami Yusuf lalu ada kejadian atau seseorang yang memberi tanda atau isyarat?

Siapa pun dari kita pasti tidak ingin berada dalam situasi sebagaimana dikisahkan dalam Injil Matius ketika Herodes menggunakan kekuasaan dipenuhi hawa nafsu.

Sungguh Yusuf memberikan keteladanan dengan berpegang pada pesan, “…sampai Aku berfirman kepadaMu, …” Yusuf sangat mengimani bahwa Allah Terang Pengantara adalah Kristus

1 Yohanes 1:5 – 2-2 hadir dalam wujud bayi mungil Juru Selamat yang harus dijaganya.

Sobat Katolikana, sadarkah betapa kita menjadi sangat hilang sabar dan sulit mengendalikan emosi ketika berada atau mengalami masalah pelik? Kita dengan mudahnya hanyut dalam kepanikan dan menyalahkan keadaan bahkan Tuhan. Di saat sulit, seberapa sering kita berserah dan mendengarkan Tuhan berfirman melalui sesama atau kejadian di sekitar?

Sobat Katolikana, ingatkah bagaimana Yusuf harus menerima Maria yang telah mengandung bayi Yesus? Bagaimana Yusuf harus mencari tempat berlindung untuk Maria yang akan melahirkan? Dalam keadaan yang sama sekali tidak dipahami bahkan kritis, Yusuf tetap setia berpegang pada firman Tuhan dan mengimani Allah Terang Pengantara adalah Kristus.

Tuhan, Sang Terang Pengantara, sinarilah kami agar dalam keadaan sesulit apa pun senantiasa tetap setia menantikan jawaban Tuhan melalui sesama atau kejadian di sekitar. Amin.

Penulis: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru
Pengisi: Ignacia Lola’ Tandirerung

SANTO YOHANES RASUL

Kisah Orang kudus 27 Desember 2022: Santo Yohanes Rasul

Santo Yohanes Rasul, anak Zebedeuz berasal dari Betsaida, sebuah dusun nelayan di pantai tasik Genesareth, ia sendiri seorang nelayan Galilea. Ayahnya, Zebedeus, adalah seorang nelayan yang tergolong berkecukupan.

Ibunya, Salome tergolong wanita pelayan dan pengiring setia Yesus, bahkan sampai ke bukit Kalvari dan kubur Yesus. Bersama dengan saudaranya Yakobus dan Petrus, Yohanes termasuk kelompok rasul inti dalam bilangan keduabelasan, ia bahkan disebut sebagai murid kesayangan Yesus.

Mereka bertiga adalah saksi peristiwa pembangkitan puteri Yairus, saksi peristiwa perubahan rupa Yesus di gunung Tabor dan saksi peristiwa sakratul maut dan doa Yesus di taman Getzemani. Yohanes adalah rasul yang termuda. Ia amat dikasihi oleh Yesus.

Pada perjamuan malam terakhir, Yohanes diperbolehkan menyandarkan kepalanya di dada Yesus. Yohanes juga satu-satunya rasul yang berdiri di kaki salib. Yesus yang sedang menghadapi ajal menyerahkan pemeliharaan Bunda-Nya kepada murid yang dikasihi-Nya ini.

Bersama Andreas, Yohanes adalah murid Yohanes Pembabtis. Yohanes Pembabtis-lah yang menyuruh mereka berdua pergi kepada Yesus. Yohanes hidup hampir seabad lamanya. Ia sendiri tidak wafat dimartir, tetapi sungguh ia menempuh hidup yang penuh penderitaan.

Kira-kira pada tahun 60 ia pergi ke Asia Kecil dan menjadi Maha uskup di kota Efese. Dalam Kitab Wahyu diterangkannya bahwa la dibuang ke pulau Patmos karena agama dan ajarannya.

Sepulangnya ke Efese ia mengarang Injilnya. Dari buah karangannya kita dapat mengatakan bahwa Yohanes adalah seorang teolog yang karangan-karangannya berisi refleksi dan ajaran teologis yang mendalam tentang Yesus dan karya perutusan-Nya.

Pada tahun-tahun terakhir hidupnya, khotbah Yohanes hanyalah berupa wejangan-wejangan singkat yang sama saja. Atas pertanyaan orang-orang serani, mengapa ajarannya selalu sama saja, ia menjawab : “Sebab itulah perintah Tuhan yang utama dan jikalau kamu melakukannya, sudah cukuplah yang kamu perbuat.”

Santo Yohanes adalah Rasul terakhir yang meninggal dunia kira-kira pada tahun 100 pada masa pemerintahan Kaisar Trayanus.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

FIRMAN HIDUP

Renungan Tetes Embun: Selasa, 27 Desember 2022

Ia melihatnya dan percaya (Yohanes 20:8)

Sobat Katolikana, kepada kita kembali disampaikan perihal Firman Hidup. Firman yang nyata dalam Tuhan yang hidup, kini dan nanti dalam hidup kekal. Bagaimana Tuhan yang adalah Firman, hidup, kini dan nanti?

Sobat Katolikana, ingat salah satu sabda yang berbunyi, “Apa yang kamu lakukan bagi saudaraku yang paling hina ini, itu kamu lakukan untuk aku.”

Matius 25:40 Sabda ini menegaskan bahwa Firman Hidup berarti harus dinyatakan serta dapat dilihat dalam laku dan perbuatan. Firman Hidup juga berarti bersaksi termasuk mengenai hidup kekal kelak.

Sobat Katolikana, kita semua memang bukan saksi yang langsung mendengar dan melihat Sang Firman Hidup, namun apakah karena tidak melihat kita menjadi tidak percaya?

Sadarkah bahwa segala bentuk anugerah dan kasih karunia yang boleh kita lihat, nikmati, dan rasakan adalah perwujudan nyata Firman yang Hidup dan meraga.

Bukti apa lagi yang mau diminta dari Sang Firman Hidup agar sungguh percaya? Yohanes adalah murid yang dikasihi, setelah melihat makam kosong, barulah ia teringat akan sabda mengenai kebangkitan dan menjadi percaya.

Begitu melimpah segala anugerah indah dalam hidup yang sudah kita lihat, nikmati, dan rasakan, sudah seharusnya kita makin percaya dan bukan menyimpan ragu.

Sobat Katolikana, ingatlah bahwa melalui apa yang kita dengar dan lihat, pun hidup kekal telah dinyatakan, supaya kita percaya dengan suka cita sempurna.

Tuhan, Sang Firman Hidup, bantulah kami semakin percaya dan selalu siap menjadi saksi pewarta kehidupan kekal dalam persekutuan Ilahi, supaya sukacita kami menjadi sempurna. Amin.

Penulis: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru
Pengisi: Th. A. Alfa Dirgantara