SANTO STEFANUS

Kisah Orang Kudus 26 Desember 2022: Santo Stefanus

Stefanus artinya mahkota. Ia adalah pengikut Kristus yang pertama yang menerima mahkota kemartiran. Stefanus adalah seorang diakon pada masa Gereja Perdana. Kita membaca kisah tentangnya dalam Kitab Kisah Para Rasul bab 6 dan 7.

Petrus dan para rasul lainnya menyadari bahwa mereka membutuhkan penolong-penolong untuk mengurus para janda serta kaum miskin. Jadi, mereka mentahbiskan tujuh orang diakon, Stefanus adalah yang paling terkenal dari antara mereka.

Tuhan mengadakan banyak mukjizat melalui Stefanus. Ia berbicara dengan hikmat dan karunia yang membuat banyak dari para pendengarnya menjadi pengikut Yesus. Para musuh Gereja Yesus merasa geram melihat betapa berhasilnya khotbah Stefanus.

Pada akhirnya, mereka bersekongkol untuk melawan dia. Mereka tidak dapat membantah perkataan-perkataannya yang bijaksana, jadi mereka memerintahkan beberapa orang untuk bersaksi dusta terhadapnya. Saksi-saksi palsu itu mengatakan bahwa Stefanus telah berbicara hujat terhadap Tuhan.

Stefanus menghadapi gerombolan para musuhnya yang banyak itu tanpa rasa takut. Malahan, Kitab Suci mengatakan bahwa wajahnya menjadi serupa dengan wajah malaikat. Stefanus berbicara tentang Yesus, menunjukkan bahwa Ia adalah Juruselamat yang dijanjikan Tuhan.

Ia mencela para musuhnya karena tidak percaya kepada Yesus. Mendengar itu, mereka menjadi amat marah serta berteriak-teriak kepadanya. Tetapi, Stefanus memandang ke langit dan berkata: ”Lihat…! Lihatlah langit terbuka dan lihatlah Yesus berdiri di sebelah kanan Allah.”

Para musuhnya menutup telinga mereka dan tidak mau mendengarnya lebih lanjut. Mereka menyeret Stefanus ke luar kota Yerusalem dan melemparinya dengan batu hingga mati.

Orang kudus itu berdoa: “Tuhan Yesus, terimalah rohku!” Kemudian Stefanus berlutut serta memohon kepada Tuhan untuk tidak menghukum para musuh yang membunuhnya. Setelah pernyataan kasih yang sedemikian besar itu, Stefanus pergi untuk menerima ganjaran surgawi.

Penulis: Arief Setyawan. Pengisi: Dionisius Agus Puguh

JANGAN KHAWATIR

Renungan Tetes Embun: Senin, 26 Desember 2022

Dia yang akan berkata-kata di dalam kamu. (Matius 10:20)

Kisah para Rasul dan Injil hari ini, kalau dibaca selintas kok membuat perasaan jadi sulit diungkapkan, ya.

Pernahkah Sobat Katolikana berada dalam situasi sebagaimana dikisahkan dalam kedua bacaan hari ini? Pastilah benar-benar tidak terurai kata, kekuatiran dalam hati, saat kita berbuat hal-hal baik kepada sesama atau dalam suatu kelompok, tetapi yang kita terima adalah caci-maki, tuduhan, bahkan penganiayaan.

Apakah yang pertama akan terlintas dalam benak saat mengalami hal seperti di atas? Manusiawi kita pasti akan dipenuhi keinginan melawan bahkan membalas. Dalam budaya Jawa, ada kalimat bijak yang sudah dikenal sejak jaman dulu, Sura Dira Jayaningrat Lebur Dening Pangastuti, yang secara harafiah berarti segala sifat keras hati, picik, angkara murka, hanya bisa dikalahkan dengan kebijaksanaan, kelembutan, dan kesabaran.

Sharing pribadi ya, dulu perenung asli temperamental, sewaktu masih mengajar – cap killer itu sudah melekat, saat kerja dalam tim – kalau ada yang salah atau susah paham – karena kuatir proses kerja kacau dan tujuan tidak tercapai maka ngomel sudah seperti senapan mesin. Seiring waktu, perlahan
belajar bahwa luapan emosi tidak akan pernah selesaikan masalah.

Perenung selalu terngiang salah satu pesan Bapak, Almarhum, “Jika sesuatu bisa disampaikan dengan baik kenapa harus menggunakan cara yang menyakitkan?”

Sangat tidak mudah untuk mengubah diri dan harus tiada lelah terus berusaha. Sangat bersyukur bahwa saat ini, perenung justru sering diminta menjadi narahubung atau juru komunikasi bila berhadapan dengan relasi atau pihak yang asli menyusahkan dan selalu mau benar/menang sendiri.

Sobat Katolikana, jangan kuatir dalam saat sulit, tenangkan dan buka hati agar Tuhan sendiri yang mengendalikan segala ucap, sikap, pikir, dan laku kita.

Tuhan, ke-aku-an kami sangatlah mendominasi sehingga sulit bersabar dan berpikir jernih serta penuh kekuatiran dalam menghadapi hal-hal pelik dan mengusik emosi. Bantulah kami untuk selalu mau mengambil waktu hening diri agar Engkau sendiri yang mengisi hati kami sehingga segala ucap, sikap, pikir, dan laku sungguh sesuai kehendak-Mu semata. Amin.

Penulis: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru

Pengisi: Th. A. Alfa Dirgantara

KISAH KELAHIRAN YESUS KRISTUS

Kisah Orang Kudus 25 Desember 2022: Kisah Kelahiran Yesus Kristus

Hidup manusia dimulai dengan kelahiran. Di era modern ini, umumnya bayi-bayi lahir dengan keadaan yang serba berkecukupan, bahkan berkelimpahan. Mereka lahir di dalam rumah mewah, atau dalam rumah sakit yang elit, lengkap dengan peralatan medis yang mutakhir. Mereka tidak mengenal arti sebuah penderitaan dalam keadaan miskin dan papa. Bagaimana dengan bayi-bayi yang lahir dalam keadaan miskin dan dalam keadaan tersingkir?

Dalam kisah kelahiran Tuhan Yesus di dalam dunia ini, kedua orang tuanya tak mendapat sedikit pun penginapan. Terpaksa pasutri muda ‘Maria dan Yosef’ menumpang di sebuah kandang hewan. Betul, bayi Yesus lahir di tempat itu, sebuah tempat bagi binatang yang kotor, bau, lembab, dan tentunya tak terurus dengan baik. Dan bayi Yesus dibungkus dengan kain lampin, dan Ia dibaringkan di dalam palungan.

Bagaimana mungkin seorang Raja dan Tuhan Penyelamat manusia lahir dalam palungan? Ini suatu tanda yang jelas, bahwa Allah mau solider dengan kehidupan manusia. Yesus menghadirkan Allah yang berbelas kasihan kepada orang yang miskin, papa, tertindas, teraniaya, terlupakan, bahkan ditolak sama sekali oleh masyarakat.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

FIRMAN, TERANG, PERCAYA

Renungan Tetes Embun: Minggu, 25 Desember 2022

Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia. (Yohanes 1:4)

Sobat Katolikana, semoga berita damai bahwa Sang Firman sungguh hidup, kini menjelma sebagai Terang di hati setiap kita yang semakin beriman dan percaya. Semoga Sobat Katolikana sudah sempat menyimak ya, Nabi Yesaya mewartakan, segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita

Yesaya 52:10, diperjelas dalam surat kepada Umat Ibrani, Ia adalah cahaya kemuliaan Allah dan gambar
wujud Allah dan menopang segala yang ada dengan firman-Nya yang penuh kekuasaan
Ibrani 1:3. Injil Yohanes semakin menjabarkan dan menegaskan, Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia
Yohanes 1:4. Jika penghayatan inti or makna ketiga bacaan hari ini mau dibuat per bagian,
bisa saja sich, tetapi kalau mau ditarik benang merah, so pasti juga bisa banget.
Coba kita ingat yuk, seberapa akrab kita dengan Firman Tuhan sehingga sungguh
menjadi Terang dalam setiap detak kehidupan serta kita semakin beriman dan
Percaya bahwa kita adalah anak-anak Allah
Yohanes 1:12?
Naaahhh, kalau sedikit saja kita ingat, artinya kita sadar banget makna Natal:
1. Firman itu telah menjadi manusia, dan diam di antara kita, dan kita telah melihat kemuliaan-Nya, Yohanes 1:14 … Tuhan hadir dalam setiap sesama, dengan cara yang Sobat Katolikana dan saya pun sering tak sadari apa lagi pahami.

2.Karena dari kepenuhan-Nya kita semua telah menerima kasih karunia demi kasih karunia;
Yohanes 1:16 … Saat sedang suntuk karena loading pekerjaan atau ujian/tugas buat yang masih menempuh studi atau karena selisih paham dengan rekan/kekasih, sadarkah bahwa pekerjaan, kesempatan studi, serta rekan/kekasih adalah perwujudan nyata kasih karunia dari kepenuhan-Nya?

Sobat Katolikana, semoga pada Natal ini kita sungguh terlahir kembali untuk semakin akrab dengan Firman agar sungguh kita hayati sebagai Terang yang membuat ke-Percaya-an kita semakin mendalam dalam mengarungi kehidupan karena sesungguhnya kita hidup di dalam Dia yang adalah terang manusia.

Tuhan, bantulah kami, merayakan Natal bukan hanya secara lahiriah namun sungguh dari lubuk hati yang selalu merindu Terang dari Firman-Mu. Tuntun kami semakin Percaya bahwa kami hidup di dalam Dia yang adalah terang manusia. Amin.

Penulis: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru
Pengisi: Thomas Aquinas Alfa Dirgantara

ADAM DAN HAWA

Kisah Orang Kudus 24 Desember 2022: Adam Dan Hawa

Adam dan Hawa adalah manusia pertama yang diciptakan Allah dan ditempatkan di Firdaus. Keduanya adalah pasangan suami-isteri pertama yang menjadi asal muasal segenap umat manusia.

Gereja mengajarkan bahwa dosa asal manusia diwariskan oleh Adam dan Hawa. Yesus Kristus, Putra Allah menjadi manusia untuk menyelamatkan manusia dari belenggu dosa asal warisan Adam dan Hawa. Oleh Adam, dosa masuk dunia, tetapi oleh Yesus Kristus, Adam Kedua, manusia diselamatkan dari belenggu dosa.

Pada dasarnya `Adam’ adalah `manusia’ pada umumnya. Dalam kehidupan sehari-hari `Adam’ dipandang sebagai seorang laki-laki dan nama `pribadi’ manusia yang pertama. Hawa adalah perempuan pertama yang diciptakan Tuhan. `Hawa’ berarti ibu semua yang hidup. Adam dan Hawa diciptakan menurut citra Allah. Tuhan menciptakan Hawa sebagai pendamping dan pelengkap Adam.

Kitab Suci menggambarkan kesejajaran, bahwa Allah menciptakan Hawa dari tulang rusuk Adam. “Lalu TUHAN Allah membuat manusia itu tidur nyenyak; ketika ia tidur, TUHAN Allah mengambil salah satu rusuk dari padanya, lalu menutup tempat itu dengan daging.

Dari rusuk yang diambil TUHAN Allah dari manusia itu, dibangun-Nyalah seorang perempuan, lalu dibawa-Nya kepada manusia itu.” Secara hakiki mereka berbeda satu sama lain, laki-laki dan perempuan, namun tetap semartabat sebagai manusia.

Penulis: Arief Setyawan
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

SETIA DIMULAI DARI HAL KECIL

Renungan Tetes Embun: Sabtu, 24 Desember 2022

“Dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita.” (Lukas 1:75)

Dalam Kitab Kedua Samuel pada hari ini dilukiskan betapa berlimpah kasih karunia Tuhan bagi Daud hamba-Nya dan Israel umat-Nya. Injil Lukas juga mengisahkan tentang luar biasanya limpahan kasih karunia Tuhan yang sangat disyukuri oleh Zakharia.

Kasih karunia Tuhan yang begitu berlimpah sejak zaman dahulu, bagaimanakah seharusnya dibalas, diperlakuan, dan disikapi oleh umat-Nya? Dalam Kitab Suci banyak dikisahkan bagaimana umat yang menerima kasih karunia justru begitu mendurhakai dan tidak percaya kepada Sang Mahakarunia.

Sesungguhnya Tuhan Semesta Alam sama sekali tidak memerlukan apa lagi menuntut balasan yang setimpal dari umat-Nya. Bagi Tuhan cukuplah jika seumur hidup, kita dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya.

Mungkinkah di era sekarang ini yang menghalalkan segala cara sudah menjadi pilihan untuk meraih tujuan, kita sebagai umat yang sangat dikasihi Tuhan tetap berupaya setia dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup kita?

Kita bisa mulai dari hal kecil dan sederhana lho, misalnya membiasakan diri on time atau tepat waktu dalam hal apa pun.

Coba jujur dalam hati masing-masing apakah selama ini sudah selalu on time atau tepat waktu? Hal lain misalnya menjaga kebersihan, siapa yang kalau makan permen dan sedang jauh dari tempat sampah, bungkusnya dikantongi bukan asal lempar.  Jika kita mau ke pesta, usaha tidak terlambat, nah bagaimana jika sembahyangan, Rosario, atau ke Gereja?

Mari berupaya meneladani santo/santa pelindung dan atau figur-figur yang dikagumi, yang setia menjaga pola pikir, sikap, tindakan, dan ucapan senantiasa dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Nya seumur hidup.

Tuhan, bantulah kami agar dalam mengarungi hidup segala pola pikir, sikap, tindakan, dan ucapan senantiasa dalam kekudusan dan kebenaran di hadapan-Mu dengan tiada pernah lupa bersyukur atas rahmat-Mu yang begitu luar biasa. Amin

Penulis: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru
Pengisi: Dionisius Agus Puguh

SANTO SERVULUS

Kisah Orang Kudus 23 Desember 2022: Santo Servulus

Sejak lahir Servulus menderita kelumpuhan yang ganas yang tak memungkinkannya berdiri, duduk, atau bahkan menggerakkan tangan.

Setiap hari ibu dan kakaknya membaringkannya di pintu gerbang Gereja Santo Klemens di Roma. Di sanalah ia menantikan belas kasihan orang yang lewat.

Salah satu keutamaan Servulus ialah dengan senang hati menyisihkan sebagian uang hasil pendapatannya bagi para miskin papa yang sering berkumpul sekelilingnya untuk mendengarkan nasehat dan bimbingannya.

Banyak orang kagum akan kesabaran dan ketabahannya dalam menanggung penderitaan hidup. Dari hasil mengemis, Servulus membeli Kitab Suci dan sering meminta orang membacakan untuknya.

Demikianlah ia memahami Kitab Suci, menghayatinya dan melewatkan hari-hari dengan memadahkan atau menghafalkan ayat-ayat, meditasi, dan terus-menerus mengucap syukur kepada Tuhan sebab telah mengijinkannya menjadi kurban yang boleh menanggung derita dan sengsara seperti Yesus Kristus.

Servulus pasrah kepada Tuhan. Dalam kemalangannya itu ia tidak lupa berdoa dan bersyukur kepada Tuhan atas semua yang telah diterimanya dari belaskasih begitu banyak orang.

Keadaan hina serta penderitaannya menjadi berkat dan sumber keselamatan serta sarana mencapai kesucian hidup. Ketika mendekati ajal, sang pengemis meminta mereka yang ada di sekelilingnya untuk memadahkan mazmur bersamanya.

Sekonyong-konyong ia berseru : “Ah! Tidakkah kalian mendengar musik yang bergema di surga?” Saat itulah jiwanya meninggalkan tubuhnya yang memancarkan bau harum hingga saat dimakamkan. Servulus wafat pada abad keenam.

Penulis: Arief Setyawan Pengisi: Dionisius Agus Puguh

RAHMAT YANG MENGAGUMKAN

Renungan Tetes Embun: Jumat, 23 Desember 2022

Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang begitu besar kepadanya. Sebab tangan Tuhan menyertai dia. (Lukas 1:58, 66)

Maleakhi menubuatkan kelahiran Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu Yesus Kristus, Sang Juru Selamat. Misteri penyelamatan memang telah dinubuatkan oleh para nabi namun mengapa umat manusia pada zaman itu begitu bebal. Bagaimanakah dengan kita di masa kini?

Nubuat para nabi tentang segala karya penyelamatan Tuhan seolah hanya bagai angin lalu bagi umat pada zaman itu. Tiada terhitung rahmat-Nya yang begitu besar dinyatakan karena penyertaan Tuhan semata, namun bagaimana sikap umat Allah pada zaman itu dan kita saat ini?

Sobat Katolikana pernah membaca kisah suami Elisabeth, Zakharia? Seorang imam dari rombongan Abia yang bertugas di Bait Allah dan dibuat menjadi bisu karena ketidakpercayaan terhadap berita akan hadirnya Yohanes Pembaptis.

Hal ini wajar secara manusiawi, karena Elisabeth, istrinya sudah sangat tua untuk mengandung seorang anak. Oleh karena rahmat-Nya yang begitu besar maka setelah kelahiran Yohanes Pembaptis, Zakharia dapat berbicara kembali.

Sadarkah Anda seberapa besar Tuhan melimpahkan rahmat-Nya serta tiada pernah sepersekian detik pun membiarkan kita seorang diri? Sadarkah bahwa setiap helaan napas adalah rahmat yang begitu besar dan wujud penyertaan Ilahi yang tiada berkesudahan?

Mari kita jangan lelah terus meneladani tokoh-tokoh dalam Kitab Suci, walau dalam segala keterpurukan seperti Elisabeth yang telah dinyatakan mandul, tetapi tetap teguh dalam iman. Zakharia yang sempat kehilangan rasa percaya tetapi akhirnya kembali mengakui besarnya rahmat dan tiada berkesudahannya penyertaan Tuhan.

Mampukah kita menghitung besarnya rahmat Tuhan yang telah kita terima dalam hidup kita dan sadarkah kita akan penyertaan-Nya yang tanpa batas bahkan sejak kita masih dalam kandungan Ibu?

Tuhan, mampukan kami senantiasa menyadari dan bersyukur atas setiap bentuk rahmat-Mu dan ajarlah kami untuk tiada sedikitpun berpaling dari pada-Mu yang setia menyertai kami. Amin.

Penulis & Pengisi: Clara Christina Maria Immaculata Wara Wulandaru

SANTA PERAWAN MARIA

Kisah Orang Kudus 22 Desember 2022: Santa Perawan Maria

Injil Lukas 1: 26-35 mengisahkan bahwa dalam bulan yang keenam Allah menyuruh malaikat Gabriel pergi ke sebuah kota di Galilea bernama Nazaret, kepada seorang perawan yang bertunangan dengan seorang bernama Yusuf dari keluarga Daud, nama perawan itu Maria. Ketika malaikat itu masuk ke rumah Maria, ia berkata : “Salam, hai engkau yang dikaruniai, Tuhan menyertaimu.”

Maria terkejut mendengar perkataan itu, lalu bertanya di dalam hatinya, apakah arti salam itu. Kata malaikat itu kepadanya:

“Jangan takut, hai Maria, sebab engkau beroleh kasih karunia di hadapan Allah. Sesungguhnya engkau akan mengandung dan akan melahirkan seorang anak laki-laki dan hendaklah engkau menamai Dia Yesus. Ia akan menjadi besar dan akan disebut Anak Allah Yang Mahatinggi. Dan Tuhan Allah akan mengaruniakan kepada-Nya takhta Daud, bapa leluhur-Nya, dan Ia akan menjadi raja atas kaum keturunan Yakub sampai selama-lamanya dan Kerajaan-Nya tidak akan berkesudahan.”

Mendengar perkataan Malaikat itu, Maria : “Bagaimana mungkin hal itu terjadi, aku belum bersuami? Kemudian Gabriel menjawab: “Roh Kudus akan turun atasmu dan kuasa Allah Yang Maha tinggi akan menaungi engkau, sebab itu anak yang akan kaulahirkan itu akan disebut kudus, Anak Allah.”

Penulis: Arief Setyawan Pengisi: Dionisius Agus Puguh

KEHENDAK TUHAN SELALU BAIK

Renungan Tetes Embun: Kamis, 22 Desember 2022

“Yang Mahakuasa telah melakukan perbuatan-perbuatan besar.” (Lukas 1:49)

Bacaan dari Kitab Samuel dan Injil Lukas hari ini melukiskan ungkapan syukur dua orang perempuan yang pada jamannya beroleh kasih karunia Ilahi. Kita semua pastilah pernah mengalami salah satu atau bahkan kedua hal berikut ini: 1. Dinyatakan atau dinilai tidak mampu melakukan atau mendapatkan sesuatu. 2. Melakukan atau mendapatkan sesuatu yang memimpikan saja tidak berani.

Bagaimana perasaan saat mengalami yang pertama? Pasti down, sedih, putus asa, bahkan mungkin kecewa/marah kepada Sang Maha Pencipta atau mungkin ada yang sampai terguncang iman. Intinya rasa hati sudah tidak terurai kata.

Nah bagaimana jika terjadi yang kedua? Tiada terurai kata bahkan bisa sampai berurai air mata keharuan … semoga tetap ingat bersyukur kepada Tuhan ya.

Sobat Katolikana pasti pernah membaca atau mendengar kisah Hana yang tidak memiliki anak bahkan dinyatakan mandul. Ternyata keadaan itu tidak membuat Hana kehilangan iman tetapi justru sebaliknya semakin setia bermohon dan berikhtiar kepada Tuhan.

Lalu kata perempuan itu: “Mohon bicara tuanku, demi tuanku hidup, akulah perempuan yang dahulu berdiri di sini dekat tuanku untuk berdoa kepada TUHAN. (1Sam 1:26)

Dalam lubuk hati terdalam Hana masih menyimpan keyakinan sebagaimana dinyatakan oleh Perawan Maria dalam Kidung Magnificat.

Sebab Ia telah memerhatikan kerendahan hamba-Nya. (Luk 1:48)

Tuhan menyatakan Kuasa-Nya sebagaimana tertera dalam 1 Samuel 1:27-28 dan Lukas 1:49 karena memang tidak ada yang tidak mungkin bagi Sang Causa Prima.

Perawan Maria yang ketika itu adalah seorang remaja putri, dimampukan menempuh perjalanan begitu jauh untuk mengunjungi Elisabeth. Perempuan yang sudah dinyatakan mandul, justru dianugerahi Tuhan mengandung dan melahirkan Yohanes Pembaptis sebagai pendahulu karya penyelamatan Yesus.

Yakinlah bahwa Yang Mahakuasa telah dan selalu melakukan perbuatan-perbuatan besar bagi kita semua dalam setiap detik kehidupan kita.

Tuhan Mahakuasa, teguhkanlah iman kami agar senantiasa yakin dan semakin percaya bahwa Kehendak-Mu yang terbaik dan akan selalu indah sesuai Waktu-Mu bukan waktu kami. Amin.

Penulis: Clara C.M.I. Wara Wulandaru Pengisi: Dionisius Agus Puguh