KESEMPATAN KEDUA

Renungan Tetes Embun: Selasa, 21 Maret 2023.

“Kemudian Yesus bertemu dengan dia dalam Bait Allah lalu berkata kepadanya: “Engkau telah sembuh; jangan berbuat dosa lagi, supaya padamu jangan terjadi yang lebih buruk.” (Yoh. 5:14)

Alkisah, ada pemuda yang rajin mengikuti misa, walaupun untuk mencapai gereja, ia harus berjalan kaki berkilo-kilo jauhnya. Setiap hari ia membayangkan, seandainya ia memiliki sepeda motor tentunya waktu yang diperlukan untuk ke gereja jadi lebih singkat dan ia pun tidak kelelahan atau kucel karena berkeringat, sehingga semakin fokus saat mengikuti misa.

Pada suatu saat, Tuhan mengabulkan doanya itu. Ia akhirnya memiliki motor yang diimpikannya. Awalnya dia bersukacita karena motornya bisa mengantarnya ke gereja dengan cepat. Ia juga jadi punya teman-teman baru di komunitas pecinta motor.

Sayangnya, lama-kelamaan ia justru terlena, sabtu minggu yang biasanya ia gunakan untuk ke gereja, kini digunakan untuk touring bersama teman-temannya. Dan pada salah satu perjalanan touringnya, terjadi kecelakaan yang menyebabkan kakinya patah.

Sama seperti si sakit yang disembuhkan oleh Yesus, setelah tiga puluh delapan tahun dia menanti, kita juga senantiasa diberi pemenuhan atas kebutuhan kita. Namun, Yesus menginginkan anugerah itu menjadi sarana untuk memuliakan Allah, bukan untuk kepentingan kita sendiri, yang bisa menjadikan kita jatuh ke dalam dosa.

Yesus adalah pribadi yang maha tahu. Ia tidak hanya mengetahui apa yang terjadi di masa kini, namun juga dimasa depan. Karena itu Yesus berpesan, agar dalam kesembuhannya ini, si sakit itu sungguh mau mengubah hidupnya, meninggalkan dosa dan mengikuti Tuhan.

Sebab jika tidak, hal-hal yang lebih buruk sudah siap menerkam. Ingatlah.. dengan dikabulkannya permintaan kita, bukan berarti kita bisa menggunakannya sesuai ego kita. Justru ini merupakan kesempatan kedua, untuk hidup makin seturut dengan kehendak Bapa.

Ya Bapa, ajar kami untuk tidak hanya bersyukur atas terkabulnya doa kami, namun juga ajar kami untuk berhikmat, agar dengan terkabulnya kerinduan kami, namaMu semakin dimuliakan kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis Renungan: Hedwigis Belto Rosyandari
Pengisi Renungan: Ignacia Lola’ Tandirerung

TULUS DAN TAAT

Renungan Tetes Embun: Senin, 20 Maret 2023.

“Tetapi mereka tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka.” (Luk. 2:50)

Dalam Kalender Liturgi hari ini adalah Hari Raya Santo Yusuf Suami Santa Perawan Maria, figur keturunan Daud yang begitu sederhana sebagai tukang kayu, tulus hati Matius 1:19, serta begitu setia dan taat walaupun belum memahami apa rencana Tuhan sesungguhnya Matius 1:24 | Lukas 2:41-51.

Yusuf adalah keturunan Daud yang dinubuatkan dalam Kitab Kedua Samuel, berpegang teguh pada kebenaran berdasarkan iman akan Penyelenggaraan Ilahi, seperti disampaikan Rasul Paulus dalam surat kepada jemaat di Roma.

Apakah kita memiliki iman dan berani bersikap seperti Yusuf? Coba kita bayangkan … sepertinya hanya ada di sinetron atau drama … ada pria yang bersedia bertanggung jawab atas sesuatu yang tidak pernah dilakukan … atau Ibu kandung yang sudah panik karena sempat terpisah dengan putranya … lalu saat bertemu mendapat jawaban sekaligus pertanyaan begitu dalam …

Dalam ketidakpahaman Yusuf tetap berpegang dan berpedoman kepada Pesan Ilahi yang diterima melalui malaikat dalam mimpi … tetap mencari, mengajak pulang, dan mengasuh Sang Putra yang justru mempertanyakan mengapa dicari.

Sama seperti Abraham, sekalipun tidak ada dasar berharap, bahkan sama sekali tidak memahami rencana Tuhan, Yusuf tetap percaya dengan penuh iman maka hal ini diperhitungkan kepadanya sebagai kebenaran.

Seperti Bunda Maria yang juga sama sekali tidak memahami jawaban sekaligus pertanyaan dari Sang Putra, menyimpan semua dalam hati penuh kasih tulus. Inilah keteladanan bagi kita semua umat beriman yaitu setia berharap dan percaya serta sesuai pesan malaikat janganlah takut, rencana Tuhan indah pada waktu-Nya.

Tuhan, liku dan misteri hidup yang kami alami jauh lebih ringan dari kehidupan Keluarga Kudus, bantulah kami setia meneladani Keluarga Kudus dalam berserah kepada Penyelenggaraan Ilahi. Demi Tuhan yang hidup kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis Renungan: Clara C. Maria Imm. Wara Wulandaru
Pengisi Renungan: Ignacia Lola’ Tandirerung

MENJADI ANAK-ANAK TERANG

Renungan Tetes Embun: Minggu, 19 Maret 2023.

“Kata Yesus kepadanya: “Engkau bukan saja melihat Dia; tetapi Dia yang sedang berkata-kata dengan engkau, Dialah itu!” Katanya: “Aku percaya, Tuhan!” Lalu ia sujud menyembah-Nya. Kata Yesus: “Aku datang ke dalam dunia untuk menghakimi, supaya barangsiapa yang tidak melihat, dapat melihat, dan supaya barangsiapa yang dapat melihat, menjadi buta.” (Yoh. 9:1-41)

Bacaan Injil hari ini begitu menarik dan memuat makna simbolik. Kisah mengenai seorang buta yang disembuhkan Yesus, tentu menjadi kabar sukacita bagi si buta maupun orang-orang yang mengenalnya sejak lahir. Dan kabar sukacita itu pun disampaikan kepada kita semua sebagai murid-murid-Nya.

Barangkali dalam pengalaman sehari-hari, ketika kita berjumpa dengan sesama yang mengalami kecacatan fisik tertentu (entah dia buta, tuli, bisu, atau cacat lainnya); terkadang dalam hati kita tiba-tiba terbersit pertanyaan demikian: “Mengapa dia harus lahir buta, padahal parasnya sangat ganteng atau sangat cantik?” Atau mungkin kita akan bergumam, “Seandainya orang ini tidak pincang, tentu dia akan menjadi seorang pemuda yang gagah!”

Dalam bacaan Injil hari ini, Yesus berkata demikian, “…tetapi karena pekerjaan-pekerjaan Allah harus dinyatakan di dalam dia.” Dan mengenai pekerjaan-pekerjaan Allah, tentu akan menjadi misteri bagi kita semua.

Akan tetapi sebagai umat beriman, kita tentu meyakini bahwa Allah mempunyai rencana yang indah terhadap orang-orang yang secara fisik mengalami kecacatan tadi. Almarhum Paus Benediktus XVI dalam surat gembala prapaskah kepausannya pernah mengajarkan bahwa perikop Injil Yohanes bab 9, berbicara tentang “Kristus, Sang Cahaya Dunia.”

Bacaan Injil hari ini juga hendak menyampaikan pertanyaan ini kepada kita semua: “Percayakah engkau kepada Anak Manusia?” Apa jawaban Anda? Apakah Anda akan menjawab, “Ya, Tuhan, aku percaya” (Yoh. 9:35,39) seperti seruan yang diucapkan orang buta dalam bacaan Injil hari ini?

Mukjizat penyembuhan yang dialami orang buta itu menjadi tanda, bahwa Kristus berkehendak memberi kita, bukan saja kemampuan untuk melihat, tetapi juga membuka kemampuan kita melihat secara batin, sehingga iman kepercayaan kita juga semakin diperdalam dan kita mampu mengenali-Nya sebagai satu-satunya Juru Selamat kita.

Yesus hadir untuk menerangi apa saja yang merupakan kegelapan di dalam hidup umat manusia dan membimbing semua orang – baik laki-laki maupun perempuan, untuk hidup sebagai “anak-anak terang”!

Mari kita sadari dengan sepenuh hati maksud kehadiran Kristus di dunia ini bagi umat-Nya dan bagi seluruh manusia. Dan sudah sepantasnya kita bersyukur dan bersukacita atas anugerah keselamatan yang kita terima berkat pengorbanan-Nya di kayu salib. Dengan begitu kita akan menjadi umat Allah yang tahu bersyukur dan mengucap terima kasih setiap hari atas berkat melimpah yang sudah kita alami.

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah mengangkat kami menjadi anak-anak-Mu. Bantu kami ya Tuhan, agar sebagai anak-anak-Mu, kami dapat menjadi saksi-saksi-Mu hingga ke ujung bumi.
Mampukan kami yang Tuhan, agar melalui semuanya itu kami dapat mengasihi sesama kami dengan sepenuh hati dan senantiasa bersyukur atas limpahan rahmat kurnia-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis Renungan: Dionisius Agus Puguh

Pengisi Renungan: Clara C. Maria Imm. Wara Wulandaru

MENILIK GAMBAR DIRI KITA KETIKA BERDOA

Renungan Tetes Embun: Sabtu, 18 Maret 2023.

“Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan
diri, ia akan ditinggikan.” (Luk. 18:9-14)

Bacaan Injil hari ini berkisah mengenai perumpamaan yang disampaikan Yesus perihal cara berdoa yang benar. Dalam perumpamaan tersebut dikisahkan apa yang dilakukan oleh seorang Farisi ketika berdoa di Bait Allah. Di bagian lain perumpamaan itu juga diceritakan apa yang disampaikan seorang pemungut cukai ketika berdoa di Bait Allah.

Kedua gambaran cara berdoa tersebut, jika kita refleksikan secara mendalam, sebenarnya hendak mewakili cara berdoa kita dalam kehidupan sehari-hari. Mungkin dalam hal berdoa, kita pernah menempuh cara pertama yang dilakukan oleh orang Farisi dalam kisah Injil di atas. Dan dalam kesempatan yang lain, kita mengikuti jejak pemungut cukai saat menyampaikan doa-doa kita kepada Allah.

Orang Farisi yang disebutkan dalam kisah Injil hari ini berdoa dengan penuh kesombongan. Ia meninggikan dan memuji dirinya sendiri di hadapan Sang Pencipta. Namun si pemungut cukai justru bersikap sebaliknya. Ia menyadari keberdosaan dirinya seraya memohon belas kasihan kepada Allah.

Mari kita selidiki diri kita masing-masing, cara berdoa manakah yang selama ini sering kita praktikkan dalam kehidupan sehari-hari? Apakah kita lebih sering membangga-banggakan diri kita di hadapan-Nya ataukah justru merendahkan diri sebagai manusia yang lemah dan tak berdaya?

Sebagai umat beriman, tentu kita meyakini bahwa segala sesuatu yang kita alami dan nikmati dalam hidup ini sebenarnya adalah karunia dan rahmat dari Allah semata. Dan semua itu merupakan buah dari doa-doa kita setiap harinya.

Doa merupakan komunikasi pribadi setiap insan dengan Sang Pencipta-Nya. Setiap orang mempunyai cara berdoanya masing-masing; pun isi dari doa-doa itu beraneka ragam adanya. Seperti yang disabdakan oleh Yesus dalam bacaan Injil hari ini, setiap kali berdoa janganlah kita menganggap diri sendiri sebagai orang yang paling benar sekaligus memandang rendah orang lain.

Namun hendaknya kita merendahkan diri di hadapan Allah, karena ketidakberdayaan kita di hadapan-Nya. Mari kita camkan baik-baik kata-kata Yesus berikut ini: “Sebab barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barangsiapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan.”

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menerima kami menjadi anak-anak-Mu. Tolong kami ya Tuhan, agar sebagai anak-anak-Mu, kami selalu menjadi pribadi-pribadi yang rendah hati dan tidak menyombongkan diri di hadapan sesama kami, apalagi di hadapan hadirat-Mu. Curahkan rahmat-Mu ya Tuhan, agar kami dapat menjalankan sabda-Mu dengan sepenuh hati. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis Renungan: Dionisius Agus Puguh

Pengisi Renungan: Clara C. Maria Imm. Wara Wulandaru

DUA PERINTAH UTAMA

Renungan Tetes Embun: Jumat, 17 Maret 2023.

“Hukum yang terutama ialah: Dengarlah, hai orang Israel, Tuhan Allah kita, Tuhan itu esa. Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu dan dengan segenap kekuatanmu. Dan hukum yang kedua ialah: Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri.” (Mrk. 12:28b-34)

Bacaan Injil hari ini menceritakan bagaimana Yesus menjawab pertanyaan yang disampaikan seorang ahli Taurat dengan baik. Di akhir perbincangan tersebut, kita temukan bagaimana Yesus memuji ahli Taurat tersebut karena sikapnya baik baik dan penuh sopan santun,” Yesus melihat, bagaimana bijaksananya jawab orang itu, dan Ia berkata kepadanya: “Engkau tidak jauh dari Kerajaan Allah!”

Tentu dalam banyak kesempatan kita seringkali dihadapkan pada kisah ahli-ahli Taurat yang bersikap licik, penuh tipu daya, dan tipu muslihat untuk menjatuhkan – bahkan berniat untuk mencelakakan-Nya. Namun kisah dalam Injil hari ini sangat berbeda sekali, bukan?!

Apa yang disabdakan Yesus hari ini hendak menyampaikan dua perintah utama kepada kita semua agar kita mengasihi Tuhan dan sesama. Bahkan dikatakan melalui dua perintah utama ini terletak seluruh Hukum Taurat dan Kitab Para Nabi.

Meskipun kita seringkali mendengarkan kedua perintah ini, akan tetapi cukup sulit untuk melaksanakannya dalam kehidupan kita sehari-hari. Bahkan bagi sebagian orang, untuk mencintai Tuhan dan sesama, diperlukan proses yang panjang dan harus menempuh jalan yang berliku. Apakah Anda pernah mengalami hal yang demikian?

Jika kita dalami lebih jauh 10 Perintah Allah, maka akan kita temukan bahwa sebenarnya kesepuluh perintah ini merupakan penjabaran dari dua perintah dalam sabda Yesus di atas. Perintah untuk mengasihi Tuhan dapat kita temukan pada hukum pertama sampai ke-3 dalam 10 Perintah Allah. Sedangkan hukum 4-10 merupakan penjabaran perintah untuk mengasihi sesama manusia.

Kesepuluh Perintah Allah diwahyukan secara khusus di atas dua loh batu dan ditujukan kepada bangsa Israel. Dan ke-10 Perintah Allah ini pun sebenarnya tidak hanya ditujukan untuk bangsa Israel, namun juga untuk segala bangsa di muka bumi ini. Kunci dari kemampuan kita untuk mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi serta mengasihi sesama adalah karena Allah telah memberikan rahmat-Nya kepada kita semua.

Kita semua yang telah dibaptis telah menerima rahmat Allah yang begitu besar, seperti: menjadi putera/i Allah di dalam Kristus, disatukan dalam Tubuh Mistik Kristus, dibebaskan dari dosa asal, menerima rahmat pengudusan, tiga kebajikan ilahi dan tujuh karunia Roh Kudus.

Dengan bekal rahmat Allah yang begitu luar biasa ini, maka sesungguhnya umat Allah telah dimampukan untuk dapat mengasihi Allah dengan segenap hati, jiwa dan akal budi, sehingga pada akhirnya dapat mengasihi sesama dengan lebih baik lagi.

Tuhan, terima kasih karena Engkau telah menerima kami menjadi anak-anak-Mu. Tolong kami ya Tuhan, agar sebagai anak-anak-Mu, kami dapat mengasihi-Mu dengan segenap hati dan dengan sepenuh jiwa kami. Mampukan kami ya Tuhan, agar melalui semuanya itu kami dapat mengasihi sesama kami dengan setulus hati. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis Renungan: Dionisius Agus Puguh

Pengisi Renungan: Clara C. Maria Imm. Wara Wulandaru

BERSAMA AKU

Renungan Tetes Embun: Kamis, 16 Maret 2023.

“Siapa tidak bersama Aku, ia melawan Aku dan siapa tidak mengumpulkan bersama Aku, ia mencerai-beraikan.” (Luk. 11:23)

Jika kita yang hidup pada masa Nabi Yeremia dan menerima Sabda, “Dengarkanlah suara-Ku, maka Aku akan menjadi Allahmu dan kamu akan menjadi umat-Ku, dan ikutilah seluruh jalan yang Kuperintahkan kepadamu, supaya kamu berbahagia!” Yeremia 7:23 Kira-kira kita akan seperti
bangsa Israel atau kita justru akan lebih keras menentang ya?

Bangsa Israel memilih untuk melawan dan tidak mau berjalan bersama Tuhan. Dalam dunia saat ini pada umumnya, baik hiburan, organisasi, pelayanan, dan atau politik, bahkan pertemanan biasa … sudah sangat jelas yang istilahnya blok-blokan atau geng-gengan atau istilah yang lebih intelek koalisi.

Wuih, ternyata itu memang sudah ada sejak jaman Perjanjian Baru bahkan Perjanjian Lama. Kalau kita menyimak Kitab Yeremia dan Injil Lukas pada hari ini, sebenarnya kesombongan dan iri hati karena tidak mau menaruh trust kepada sosok yang diserahi tanggung jawab, itulah akar ketidaksepahaman, lalu terbit pertentangan/perlawanan yang diikuti cerai-berai atau perpecahan.

Hal di atas akan terjadi bila sudah ada oknum-oknum yang secara sadar dan sengaja atas dasar iri hati dan subjektifitas mulai menyebarkan isu-isu atau menjadi provokator. Oknum-oknum seperti ini yang harus selalu diwaspadai dalam segala upaya membangun kehidupan bersama yang saling mendukung dan menguatkan dalam berbagai aspek.

Bila kita setia membuka hati untuk mendengar bisikan Tuhan, kita pasti akan lebih peka untuk mengenali tanda-tanda apakah figur-figur yang mengitari kita memang setia dan tulus untuk berjalan bersama atau sebaliknya.

Tuhan, hanya bersama Engkau kami dikuatkan dan dimampukan dalam menjalani kehidupan. Terima kami selalu bersama-Mu. Demi Tuhan yang hidup kini dan sepanjang segala masa. Amin.

MENGASIHANI DAN MENGAMPUNI

Renungan Tetes Embun: Selasa, 14 Maret 2023.

“Aku berkata kepadamu: Bukan sampai tujuh kali, melainkan sampai tujuh puluh kali tujuh kali.” (Mat. 18:22)

Melalui Kitab Daniel yang kita dengarkan hari ini, kita mendapat gambaran bagaimana Azarya dalam derita yang dialami, sungguh berjuang memohon belas kasihan Tuhan sekaligus ampunan dan kemurahan. Pada ayat 40 sampai dengan 43 dilukiskan bagaimana Azarya memberi teladan bahwa dalam menanggung derita, tetap begitu penuh iman memohon Tuhan mengampuni dan mengasihani serta memuliakan Tuhan.

Hari ini, melalui Injil Matius, kita kembali diingatkan akan ungkapan hati seluas samudra atau kasih sedalam lautan … Pernah terbayang kita ada pada posisi Petrus yang bertanya dan menerima jawaban dari Yesus?

Mungkinkah kita mewujudkan jawaban Yesus … atau merealisasikan Sabda yang intinya kurang lebih sama … bila ditampar satu pipi maka berikan pipi lainnya? Astaga … hanya malaikat pasti yang bisa melakukan itu … kita cuma manusia … yang lebih mudah menghitung bahkan menyari-nyari kesalahan dari pada mengasihani dan mengampuni … Tuhan begitu mengasihani dan mengampuni kita … bukankah sudah seharusnya kita sebagai makhluk ciptaan yang paling mendekati citra-Nya juga senantiasa berupaya untuk mengasihani dan mengampuni sesama?

Jika dalam susah derita kita begitu memohon … mengemis … belas kasihan Tuhan … tetapi bagaimana sikap kita saat ada yang membutuhkan uluran kepedulian dan kasih? Jika kita bersalah, logikanya berjuang memohon maaf dan ampun. Nah, jika ada yang bersalah berbesar hatikah kita untuk memaklumi dan mengampuni yang melakukan … atau … spontan menghukum dengan kata-kata setajam sembilu?

Tuhan, dalam masa tobat ini, ajarlah kami semakin mengasihani dan mengampuni, bukan menghitung kesalahan dan menghukum. Demi Tuhan yang hidup kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis Renungan: Clara C. Maria Imm. Wara Wulandaru

Pengisi Renungan: Benedictus Isworohadi

MENAATI DAN MENGGENAPI

Renungan Tetes Embun: Rabu, 15 Maret 2023.

“Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya.” (Mat. 5:17)

Kitab Ulangan mengisahkan bagaimana segala ketetapan dan peraturan diberikan agar Israel setia melakukannya serta menjadi bangsa yang besar dan dihormati juga karena kedekatan kepada Tuhan. “Memang bangsa yang besar ini adalah umat yang bijaksana dan berakal budi.

Sebab bangsa besar manakah yang mempunyai allah yang demikian dekat kepadanya seperti TUHAN, Allah kita, setiap kali kita memanggil kepada-Nya?” Ulangan 4:6-7 Sebagaimana ditegaskan dalam Ulangan 4:9 agar jangan sampai melupakan atau menghilangkan maka dalam Injil Matius secara jelas dinyatakan bahwa memang yang akan terjadi adalah penggenapan bukan pengurangan, penghilangan, apa lagi penghapusan.

Jadi siapapun yang melakukan salah satu upaya tersebut, sama artinya dengan menggali akhir hidupnya sendiri. Ingat, justru karunia akan tercurah bagi siapa pun yang tetap berupaya setia menaati serta melakukan setiap ketetapan dan perintah Tuhan itu. Tidak mungkin Tuhan Sang Causa Prima membatalkan apa yang sudah ada dalam garis penciptaan … ingat bagaimana semua dipulihkan setelah peristiwa Menara Babel dan Bahtera Nuh serta banyak peristiwa nyata lain dalam Kitab Suci.

Kalau kita simak … marak sekali lho figur yang mengangkat diri sebagai pewarta hal-hal baru terutama berkenaan kehidupan beriman dan berke-Tuhan-an … harus bagaimana kita bersikap? Boleh nggak sich kita baca, dengar, atau simak berita-berita semacam itu? Boleh-boleh saja mendengar, membaca atau menyimak aneka ragam berita itu … asal harus tetap ingat apa yang disampaikan dalam bacaan-bacaan hari ini ya.

Tuhan, tuntunlah kami selalu setia menaati dan melaksanakan semua ketetapan dan perintah-Mu dalam setiap hela napas kami. Demi Tuhan yang hidup kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis Renungan: Clara C. Maria Imm. Wara Wulandaru

Pengisi Renungan: Benedictus Isworohadi

SANTO THEOFANUS

Kisah Orang Kudus 12 Maret 2023: Santo Theofanus

Theofanus lahir di Konstantinopel, Turki, kira-kira pada tahun 758. Namanya dikenal luas karena perlawanannya yang gigih terhadap bidaah Ikonoklasme, serta karena bukunya Chronographia” yang menguraikan secara singkat sejarah dunia pada tahun 284 sampai tahun 813.

Setelah kematian ayahnya, Theofanus dikirim ke Konstantinopel. Disana ia dipaksa menikahi seorang gadis. Ketika itu ia baru berusia 12 tahun. Perkawinan ini tidak berlangsung lama. Ia bercerai dengan isterinya pada tahun 780, karena ia bercita-cita menjadi seorang biarawan. Dalam hidupnya sebagai biarawan, Theofanus dikenal sebagai seseorang yang rajin berdoa, berpuasa dan bertapa. Ia kemudian mendirikan sebuah biara pertapaan di gunung Sigrino, dekat Cyzicus, Asia Kecil dan sekaligus menjadi pemimpin biara itu.

Pada tahun 787, ia menghadiri Konsili Nicea kedua yang menegaskan kebenaran penghormatan kepada gambar-gambar Kudus. Penegasan Konsili Nicea kedua ditentang oleh Leo V, Kaisar Byzantium. LEO berusaha memperoleh dukungan dari Theofanus, tetapi Theofanus dengan tegas menolaknya. Akibatnya, Theofanus ditangkap dan dipenjarakan selama dua tahun lamanya, lalu dibuang ke Samothrase. Disana Theofanus meninggal dunia pada tahun 817.

Penulis naskah : Arief Setyawan

Pengisi suara : Dionisius Agus Puguh

DIHARGAI

Renungan Tetes Embun: Senin, 13 Maret 2023.

“Aku berkata kepadamu, sesungguhnya tidak ada nabi yang dihargai di tempat asalnya.” (Luk. 4:24)

Kita mungkin sudah cukup sering mendengar atau membaca kisah Naaman yang ditahirkan dari sakit kusta … tapi … coba hitung dalam hati masih seberapa sering kita meragukan peran dan karya Tuhan melalui sesama di sekitar kita seperti Naaman serta orang-orang Israel? Kita meragukan peran dan karya Penyelenggaraan Ilahi melalui sesama di sekitar kita, semata karena mengenal sosok atau figur tersebut dan sudah memberikan skala penilaian tertentu atas kualitasnya sesuai kaca mata kita.

Buat yang masih studi, maukah kerja kelompok atau studi kasus dengan teman yang kemampuan akademis lebih rendah? Buat yang sudah kerja, jika dalam diskusi membahas sesuatu, apakah memberi kesempatan dan bisa menerima sumbang pandangan atau saran dari yang posisinya lebih rendah?

Dalam pertemanan … nah ini sich yang paling kelihatan … umumnya pasti mencari yang selevel dari berbagai aspek … Jadi jika di sekitar ada yang menurut kita nggak seimbang dari berbagai aspek maka apa pun yang disampaikan semaksimal mungkin akan ditolak mentah-mentah … bahkan kadang dijadikan bahan membully … coba dech jujur kepada diri sendiri … karena melakukan hal seperti itu kerap banget di luar kesadaran … apa lagi ingat … bagaimana kalau aku atau kita yang berada di posisinya … ukur baju badan sendiri … terbayang bagaimana rasanya?

Ini Prapaskah, mari lebih rendah hati dan mau membuka diri untuk melihat dan menerima Tuhan yang hadir dalam diri setiap sesama … STOP merendahkan sesama ciptaan karena kita adalah sama-sama makhluk ciptaan.

Tuhan, sadarkan kami selalu akan kehadiran-Mu dalam setiap pribadi agar kami selalu ingat untuk saling menghargai. Demi Tuhan yang hidup kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis Renungan: Clara C. Maria Imm. Wara Wulandaru

Pengisi Renungan: Benedictus Isworohadi