SANTO DISMAS

Kisah Orang Kudus 23 Maret 2023: Santo Dismas

Dismas pada mulanya adalah penyamun yang disalibkan di sebelah kanan Yesus dan bertobat. Dan pada hari itu juga Dismas bersama Yesus ada bersama sama di dalam Firdaus. Tentang Dismas ada sebuah legenda berkisah, ketika Maria dan Yosef bersama Kanak- kanak Yesus dalam perjalanan pengungsian ke Mesir untuk menghindari rencana pembunuhan Herodes, tiba- tiba mereka di dekati dan disapa oleh dua orang penyamun Titus dan Dumachus.

Titus biasanya dipanggil Dismas, dan Dumachus dipanggil Gestas. Dismas mengajak temannya Gestas untuk membantu Maria dan Yusuf dalam perjalanan itu. Menyaksikan kebaikan hati Dismas, Maria berkata : Tuhan akan mengangkat engkau dengan tangan kanan Nya dan memberikan pengampunan atas dosa- dosamu. Dismas dihormati sebagai pelindung orang- orang yang perlu bertobat secara sempurna dan santo pelindung orang yang dihukum mati.

Penulis naskah : Arief Setyawan

Pengisi suara : Sastrodikromo

SANTO PAUS ZAKARIAS

Kisah Orang Kudus 22 Maret 2023: Santo Paus Zakarias

Zakarias adalah Paus berkebangsaan Yunani, dan merupakan orang terakhir dari deretan Paus yang berasal dari Timur. Ia menggantikan Paus Gregorius III tahun 731- sampai 741. Sedangkan Zakarias memulai masa ke – Pausannya pada tanggal 10 Desember 741 sampai hari kematiannya 22 Maret 752.

Selama masa kepemimpinannya, Paus Zakarias terlibat dalam banyak masalah menyangkut hubungan Gereja dengan Negara. Ia berhasil membujuk Liutprand, Raja Lombardia untuk membangun kembali kota- kota. Ketika Aistulf, Raja Lambordia lainnya menyerang Italia dan Roma, Paus Zakarias bersama seluruh umat di Roma berhasil mematahkan serangan itu.

Paus Zakarias dikenal sebagai seorang Paus yang sangat murah hati, saleh dan sayang pada umat. Ia berhasil memperbaiki gereja- gereja di seluruh kota Roma, membantu orang- orang miskin dan sakit, serta selalu mengusahakan perdamaian, mendukung usaha- usaha pewartaan Injil dan berjuang melawan perdagangan budak belian. Zakarias meninggal pada tanggal 22 Maret 752.

Penulis naskah : Arief Setyawan
Pengisi suara : Sastrodikromo

BERBUAT WAJAR TANPA KEPURA-PURAAN

Renungan Tetes Embun: Rabu, 19 April 2023

“Dan inilah hukuman itu: Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat. Sebab barangsiapa berbuat jahat, membenci terang dan tidak datang kepada terang itu, supaya perbuatan-perbuatannya yang jahat itu tidak nampak.” (Yohanes 3: 16-21)

Anda penggemar band “God Bless”, tentu salah satu lagunya yang berjudul “Panggung Sandiwara” sangat familiar di telinga Anda. Lagu bergenre rock ini dengan apik dibawakan Ahmad Albar dan kawan-kawan.

Meskipun saya pribadi bukan penggemar band ini, namun saya menyukai beberapa lagu yang mereka ciptakan. Selain “Panggung Sandiwara”, saya juga menyukai salah satu lagu God Bless yang berjudul “Rumah Kita”.

Dalam bait pertama lagu “Panggung Sandiwara” , di sana tertulis untaian kalimat yang begitu mengusik perasaan saya. Berikut saya cuplikkan syair yang saya maksud tersebut (boleh dinyanyikan):

“Dunia ini panggung sandiwara. Ceritanya mudah berubah. Kisah Mahabrata atau tragedi dari Yunani. Setiap kita dapat satu peranan. Yang harus kita mainkan. Ada peran wajar dan ada peran berpura-pura. Mengapa kita bersandiwara?”

Dalam bacaan Injil Yohanes hari ini, disebutkan demikian, “…Terang telah datang ke dalam dunia, tetapi manusia lebih menyukai kegelapan dari pada terang, sebab perbuatan-perbuatan mereka jahat.”

Yang menjadi pertanyaan adalah, “Apakah perbuatan-perbuatan jahat yang dilakukan manusia dan tertulis dalam bacaan Injil hari ini merupakan bagian dari panggung sandiwara seperti yang dilukiskan dalam penggalan lagu di atas?”

Mari kita refleksikan masing-masing, apakah selama ini kita lebih banyak melakukan segala sesuatunya secara wajar? Atau justru kita lebih banyak berpura-pura dalam keseharian kita?

Sebuah ungkapan berbahasa Jawa berbunyi demikian, “Gusti ora sare” yang bermakna, “Tuhan tidak tidur”. Ungkapan bijak ini hendak mengingatkan kita bahwa sesungguhnya tidak ada yang dapat kita sembunyikan dari hadapan Tuhan Allah.

Sehebat apapun kita, setinggi apapun jabatan kita, kita tetaplah manusia biasa dengan segala keterbatasan dan kekurangan yang melekat pada diri kita masing-masing.

Barangkali banyak orang melupakan kenyataan tersebut; sehingga kemudian berbuat atau melakukan hal-hal yang jahat dan penuh tipu muslihat, demi meraih keuntungan pribadi dan pujian dari sesamanya.

Bagi kita umat beriman, tentunya apa yang diungkapkan Pemazmur berikut ini sangat kita resapi maknanya bukan?! : “TUHAN itu adil, Ia memotong tali-tali orang fasik.” (Mzm. 129:4).

Dan yang dimaksud orang-orang fasik adalah mereka-mereka yang tidak peduli terhadap perintah Tuhan. Orang-orang ini biasanya mengaku percaya kepada Tuhan, namun tidak mengamalkan perintah-Nya, bahkan cenderung melakukan perbuatan dosa dan kejahatan dalam kehidupannya sehari-hari.

Sebagai anak-anak Terang, mari kita sambut Terang itu dengan penuh sukacita. Jangan pernah gentar untuk menjadi saksi-saksi-Nya sampai ke ujung bumi!

Nyatakanlah kebenaran-Nya, dan jauhkanlah diri kita dari sikap kepura-puraan dan penuh tipu muslihat!

“Berbahagialah orang yang suci hatinya karena mereka akan melihat Allah.” (bdk. Mat. 5:8)

Marilah Berdoa :
Tuhan, sabda-Mu adalah Jalan, dan Kebenaran, dan Hidup bagi kami. Anugerahkanlah hikmat dan sukacita kepada kami setiap hari ya Tuhan, agar kami dimampukan untuk terus berbuat baik secara wajar. Jauhkan kami dari sikap kepura-puraan yang dipenuhi kepalsuan dan tipu muslihat.

Berkati kami yang Tuhan, agar melalui semuanya itu kami menyadari keterbatasan kemanusiaan kami dan bergantung sepenuhnya kepada kuasa-Mu. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

SANTO NOEL PINOT

Kisah Orang Kudus 21 Maret 2023: Santo Noel Pinot

Revolusi Perancis membawa gejolak besar di dalam Gereja. Biara- biara di tutup, pendidikan imam dihentikan, dan banyak rohaniwan- rohaniwati dipaksa untuk bersumpah dan mengakui konstitusi Perancis yang anti gereja. Tak terkecuali para uskup, banyak dari antara mereka dibunuh karena tidak bersedia mengakui konstitusi itu.

Salah satu yang mengalami nasib tersebut adalah Noel Pinot seorang pastur kepala paroki. Pada mulanya Noel secara penuh semangat berkhotbah mencela uskup- uskup yang mengangkat sumpah atas konstitusi Prancis yang anti gereja itu. Karena itu pastor kepala paroki ini dipecat dan dibuang.

Namun dengan diam- diam ia pulang kembali untuk melanjutkan perjuangannya. Tatkala sedang mempersembahkan misa di tengah malam, Noel Pinot dikhianati. Noel Pinot ditangkap dan dipenggal kepalanya. Ia mati sebagai martir Kristus pada tahun 1794.

Penulis naskah : Arief Setyawan

Pengisi suara : Sastrodikromo

DILAHIRKAN KEMBALI DARI AIR DAN ROH

Renungan Tetes Embun: Senin, 17 April 2023.

“Jawab Yesus: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan dari air dan Roh, ia tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah. Apa yang dilahirkan dari daging, adalah daging, dan apa yang dilahirkan dari Roh, adalah roh. Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali.” (Yoh 3:1-8)

Bacaan Injil hari ini berkisah tentang perjumpaan Nikodemus dengan Yesus yang begitu menggugah. Percakapan yang terjalin di antara keduanya sangat menarik dan membahas soal “kelahiran kembali”. Nikodemus adalah orang Farisi yang juga menjabat sebagai pemimpin agama Yahudi pada masa itu. Nikodemus pun begitu taat kepada Hukum Taurat.

Ketika itu Nikodemus mempertanyakan kepada Yesus, bagaimana mungkin seseorang yang sudah berusia lanjut dapat dilahirkan kembali? Karena secara logika manusia, tentu sangat tidak mungkin bagi seseorang yang hidup di dunia ini untuk kembali lagi ke rahim ibunya.

Jika misalnya Anda berada bersama-sama dengan Nikodemus dan Yesus pada waktu itu; pertanyaan apa yang kira-kira akan Anda ajukan kepada Yesus? Apakah Anda akan menimpali pertanyaan Nikodemus di atas? Atau Anda justru akan mengajukan pertanyaan lain versi Anda sendiri?

Sebagai orang-orang yang sudah dibaptis, mari kita coba tengok ke dalam diri kita masing-masing – dengan mengajukan pertanyaan sederhana demikian,“Apakah setelah menerima baptisan, saya sudah lahir baru?” Tentu, Anda telah mengantongi jawabannya masing-masing dalam benak Anda, bukan?! Dan pastinya jawaban tersebut tidak perlu diketahui oleh orang lain.

Dalam Gereja Katolik, istilah baptisan dimaknai sebagai kelahiran baru dalam air dan Roh Kudus dan baptisan ini hanya dapat diberikan sekali saja seumur hidup, sebab Sabda Tuhan mengatakan bahwa hanya ada satu baptisan (bdk. Ef 4:5).

Melalui baptisan yang kita terima, kita dipersatukan dengan Kristus yang wafat – sekaligus bangkit bersama-Nya. Kita diutus menjadi saksi-saksi-Nya yang hidup dan berkeliling di dunia ini untuk mewartakan Kabar Sukacita bagi banyak orang!

Barangkali Anda pernah mendengar sebuah pertanyaan atau selentingan yang mengusik telinga Anda. “Eh, orang itu katanya sudah dibaptis, tapi kok kelakuannya masih begitu-begitu saja? Nyaris tidak ada yang berubah! Lalu untuk apa dibaptis, kalau tidak membawa perubahan yang nyata?”

Jawaban apa yang akan Anda berikan terhadap pertanyaan tersebut? Apakah sebagai pengikut Kristus, Anda akan membela orang yang dicela oleh seseorang yang mengajukan pertanyaan di atas? Atau justru Anda akan ikut menghakiminya seraya menimpali dengan serangkaian tuduhan lainnya?

Kita baru saja merayakan Pekan Suci 2023. Dan selama Pekan Suci berlangsung, kita diajak untuk mengikuti kisah yang dialami Tuhan Yesus; mulai dari Minggu Palma, Kamis Putih, Jumat Agung, Sabtu Suci, hingga Minggu Paskah. Melalui Paskah, kita kembali merefleksikan iman kita masing-masing akan makna kebangkitan, “Bangkit bersama Kristus dan menjadi saksi-saksi-Nya yang hidup hingga ke ujung dunia.”

Sebab jika kita telah menjadi satu dengan apa yang sama dengan kematian-Nya, kita juga akan menjadi satu dengan apa yang sama dengan kebangkitan-Nya…. Demikianlah hendaknya kamu memandangnya: bahwa kamu telah mati bagi dosa, tetapi kamu hidup bagi Allah dalam Kristus Yesus.” (bdk. Rom 6:3-5, 11)

Tuhan, terima kasih atas rahmat baptisan yang Engkau anugerahkan kepada kami semua. Curahkan rahmat-Mu agar kami selalu bersyukur atas semua ini. Mampukan kami ya Tuhan, agar kami dapat mewartakan Kabar Sukacita kepada sesama kami. Bantulah kami untuk membuka diri pada kasih-Mu, agar kami semakin mengenal dan mengalami kebaikan-Mu dalam hidup ini. Sebab Engkaulah Tuhan dan pengantara kami, kini dan sepanjang segala masa. Amin.

Penulis Renungan: Dionisius Agus Puguh

Pengisi Renungan: Victor

SANTO FRANSISKUS MARIA DARI CAMPOROSSO

Kisah Orang Kudus 20 Maret 2023: Santo Fransiskus Maria dari Camporosso

Fransiskus Maria sebelum menjadi bruder, lahir di Camporosso, Italia dengan nama Yohanes CROESE. Kehidupannya berawal sebagai seorang petani, sebelum menjalani kehidupan membiara di novisiat Fransiskan Konventuil. Setelah menyelesaikan masa novisiatnya, Fransiskus Maria masuk Ordo Fransiskus Kapustin sebagai bruder.

Dalam ordo ini ia mendapat tugas meminta derma di jalan- jalan dan di rumah keluarga- keluarga Katolik di seluruh Paroki untuk kepentingan biara dan pekerjaan- pekerjaan sosial tarekatnya. Kesempatan meminta derma digunakan juga untuk memberi penghiburan kepada yang berkesusahan dan menderita.

Ia banyak membuat mukzijat dan dikaruniai kemampuan mengetahui hal- hal yang rahasia dan kejadian- kejadian yang akan datang. Pada tahun 1866 Genoveva ditimpa wabah kolera, Fransiskus Maria berdoa kepada Tuhan, mau mempersembahkan hidupnya, asalkan wabah kolera tersebut musnah dari kotanya. Dan sesaat kemudia, terjadilah seperti yang dimintanya. Wabah itu lenyap dari seluruh kota. Berbarengan dengan itu, Fransiskus pun meninggal dan dihormati sebagai pelindung kota.

Penulis naskah : Arief Setyawan

Pengisi suara : Sastrodikromo

SUMBER TERPERCAYA

Renungan Tetes Embun: Minggu, 16 April 2023.

“Memang masih banyak tanda lain yang dibuat Yesus di depan mata murid-murid-Nya, yang tidak tercatat dalam kitab ini, tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya.” (Yoh. 20:30-31)

saat ini pandemi Covid telah berlalu. Banyak kenangan buruk pada masa tersebut yang dapat menjadi pembelajaran. Salah satunya penyebaran informasi yang simpang siur. Sebagian besar adalah berita yang tidak benar.

Memutarbalikkan fakta sehingga membuat keresahan orang banyak. Mempengaruhi kesehatan mental masyarakat. Menciptakan kegelisahan sampai-sampai mengalami gangguan emosional yang menurunkan vitalitas.

Angka kematian pun melonjak. Menyebabkan Paus prihatin. Sebagai pemimpin umat Katolik sedunia, Paus mengajak setiap insan untuk melakukan pemberitaan dengan baik. Dan, secara serius mengangkat isu tersebut sebagai tema untuk hari Komunikasi Sosial Sedunia 2021, yaitu “Datang dan Lihatlah”.

Dengan datang dan melihat sendiri apa yang terjadi, akan mendapatkan informasi yang sebenarnya. Menetapkan dengan kesungguhan hati bahwa informasi yang akan diedarkan adalah sesuai dengan fakta. Merealisasikan sumber berita yang dapat dipercaya.

Sejalan dengan tulisan Yohanes yang menjadi fokus renungan hari ini. Para murid Yesus hadir dan mengalami berbagai tanda yang dibuat oleh-Nya. Mereka menyaksikan peristiwa-peristiwa tersebut dan mencatatnya.

Aksi konkret mewujudkan sumber informasi yang akurat. Terpercaya. Dapat dipegang kebenarannya yang menyatakan bahwa Yesus adalah Mesias. Tidak boleh ada keraguan lagi. Kita harus percaya dan mengimani Anak Allah tersebut agar memperoleh hidup.

Menanamkan kepercayaan dan mengimani Yesus akan terpenuhi dengan membaca kesaksian murid-murid Yesus secara rutin. Menggali catatan yang ditulis oleh murid-murid Yesus tidak dapat disamakan dengan membaca buku pelajaran, komik atau novel. Perlu kerendahan hati. Membiarkan Roh Kudus masuk dan menuntun kita.

Roh Kudus akan membuka mata dan telinga hati, serta pikiran. Dia bekerja melalui cara-Nya. Sesuai dengan rancangan Allah Bapa pada kehidupan setiap individu. Yang pasti, rencana-Nya adalah yang terbaik bagi seluruh ciptaan-Nya yang percaya.

Yesus, kami merendahkan hati dengan sunguh-sungguh. Memohon kehadiran-Mu untuk menjaga iman kami dengan bertumbuh dalam nama-Mu agar beroleh hidup kekal. Amin.

Penulis Renungan: Rosita Sukadana
Pengisi Renungan: Victor

SANTO PATRISIUS

Kisah Orang Kudus 17 Maret 2023: Santo Patrisius

Patrisius lahir di Inggris pada tahun 389. Ketika berusia 16 tahun, ia diculik orang Irlandia dan dibawa sebagai sandera. Di Irlandia, Patrisius dijual sebagai seorang budak. Perlakuan yang tidak manusiawi justru menimbulkan kesadaran baginya untuk lebih mendekatkan diri pada Tuhan.

Kesadarannya akan cinta kasih Kristus yang besar pada manusia perlahan- lahan menghilangkan kebenciannya kepada bangsa Irlandia. Ia kemudian mulai lebih mencintai bangsa Irlandia yang belum mengenal Kristus. Ia merasa prihatin akan cara hidup orang Irlandia yang kafir itu. Ia bertekad untuk membawa orang- orang Irlandia kepada Allah dengan berusaha mempertobatkan mereka.

Ketika perjuangan itu berhasil, Patrisius langsung pergi ke Perancis untuk mengikuti pendidikan, hingga ditabhiskan menjadi imam. Tekadnya untuk mempertobatkan bangsa Irlandia mulai dilaksanakan. Ia kembali ke Irlandia sebagai seorang misionaris Kristus.

Setelah ditahbiskan sebagai Uskup, Patrisius berjuang keras membawa bangsa kafir itu kepada pengenalan akan Kristus dan Injil. Bahkan Panglima besar bersama seluruh anak buahnya ditobatkan dan dipermandikan. Pemuda- pemudi menyerahkan diri kepada Yesus dengan mengikuti teladan Patrisius.

Keberhasilan ini ditunjang dengan pembangunan sekolah- sekolah dan gereja- gereja di seluruh Irlandia. Patrisius dikenal sebagai seorang Uskup yang rendah hati dan memimpin umatnya dengan penuh kasih sayang. Ia meninggal dunia pada tahun 461.

Penulis naskah : Arief Setyawan

Pengisi suara : Sastrodikromo

BERITAKANLAH INJIL

Renungan Tetes Embun: Sabtu, 15 April 2023.

“Lalu Ia berkata kepada mereka: “Pergilah ke seluruh dunia, beritakanlah Injil kepada segala makhluk.” (Mrk. 16:15)

Pastor selalu mengakhiri pembacaan Injil dengan berkata, “Berbahagialah orang yang mendengarkan sabda Tuhan dan tekun melaksanakannya”. Perkataan yang bertujuan mengingatkan bahwa ada tugas bagi pengikut Yesus.

Kewajiban yang merupakan satu paket dalam pemberitaan Injil. Bukan cuma membaca, merenungkan, dan membahas ayat-ayatnya. Melainkan, juga menerapkan firman Tuhan dalam keseharian. Mempraktikkan pada perilaku dan perkataan sehari-hari. Kondisi yang masih jarang ditemukan pada orang-orang yang khatam Injil berkali-kali. Biasanya, mereka membentuk komunitas yang anggotanya saling mendukung dalam menuntaskan pembacaan Injil.

Personal baru dari kelompok tersebut mendapat suntikan semangat dari seniornya. Berbagai cara dilakukan agar Injil selesai dibaca. Strategi pemberitaan Injil yang tidak salah, hanya kurang lengkap. Memberitakan Injil juga kurang tepat pada mereka yang mendalami ayat-ayat Injil. Secara serius mempelajari teknik-teknik pemberitaan Injil. Tetapi, mengabaikan kehidupan di sekitarnya serta relasi sosialnya.

Tidak bergaul dengan tetangga. Menghindar ketika ada kerja bakti. Bahkan, mengabaikan martabat manusia. Salah satu contoh yang masih banyak terjadi adalah memberi upah asisten rumah tangga jauh dari UMR yang ditetapkan pemerintah. Markus memberi kesaksian bahwa Yesus meminta murid-murid-Nya untuk pergi memberitakan Injil. Mereka memenuhi permintaan tersebut. Hasilnya dapat dilihat dari jumlah pengikut Yesus saat ini di seluruh dunia.

Pencapaian yang diperoleh dengan penuh perjuangan. Mayoritas rintangannya pada perilaku dari beberapa oknum dalam memberitakan Injil. Kekurangan tersebut menjadi pembelajaran yang mengembangkan cara pemberitaan Injil saat ini.

Tidak ada manusia yang sempurna. Setiap insan mempunyai kesempatan untuk mengembangkan cara pewartaan. Memperbaiki kesalahan pewarta di masa lampau. Menumbuhkan iman dengan setia dan teguh berpegang pada Injil. Memberitakan dan mengimplementasikannya oada setiap langkah dan karya.

Yesus, pegangan kami, mohon bimbingan-Mu agar iman kami dapat selalu bertumbuh dengan memperbaiki kesalahan dan kekurangan dari setiap tindakan dan perkataan kami. Jadikanlah kami sebagai pengikut-Mu yang setia mewartakan Injil dengan baik. Amin

Penulis Renungan: Rosita Sukadana
Pengisi Renungan: Dionisius Agus Puguh

BERUSAHA MAKSIMAL

Renungan Tetes Embun: Jumat, 14 April 2023.

“Itulah ketiga kalinya Yesus menampakkan diri kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati.” (Yoh. 21:14)

Pemilu 2024 akan berlangsung kurang dari satu tahun lagi. Agenda yang sangat penting bagi rakyat Indonesia. Termasuk, umat beriman Katolik. Mereka perlu terlibat dalam hidup menggereja, berbangsa, dan bernegara. Semangat hidup menggereja, berbangsa, dan bernegara menjadikan kita dapat melihat Pemilu sebagai kesempatan untuk menunjukkan cinta kepada Tuhan dan sesama.

Cinta yang mengobarkan keberanian untuk mengambil peran dalam Pemilu, minimal sebagai pemilih.
Pemilih yang mengamalkan cinta kasih dengan tidak membiarkan orang lain terjerumus. Menderita akibat sosok pemimpin yang tidak baik. Umat beriman layak menjadi pemilih yang bertanggung jawab pada pilihannya.

Ada beberapa tokoh yang mau dan berminat untuk dipilih menjadi pemimpin negara. Masing-masing mempunyai kekurangan. Catatan masa lalu yang gelap. Figur pemimpin yang baik mempunyai potensi untuk menjadi lebih baik dengan belajar dari kesalahan.

Selain itu, yang lebih penting adalah mempunyai kemantapan hati dalam menentukan sikap keberpihakan kepada kesejahteraan bersama. Bukan kehendak pribadi ataupun kelompok tertentu.
Setiap insan yang menjadi warga negara Indonesia layak menyadari hak maupun kewajiban menggunakan suaranya.

Sikap ini yang harus diperjuangkan. Menjadi pegangan saat menentukan pemimpin negara untuk 5 tahun ke depan. Mereka juga dituntut untuk dapat beradaptasi dengan perkembangan demokrasi saat ini. Demi mencapai tujuan yang lebih besar, yaiitu memperoleh pemimpin yang berpotensi menjunjung martabat manusia.

Yohanes bersaksi bahwa Yesus pun memberi teladan dalam memperjuangkan iman murid-murid-Nya. Yesus menampakkan diri lebih dari satu kali. Sebuah upaya untuk meyakinkan mereka bahwa Dia sudah mengalahkan kematian.

Semuanya dilakukan demi rencana Allah Bapa bagi umat manusia, yaitu Keselamatan. Sebuah teladan Yesus bagi pengikut-Nya agar berupaya maksimal untuk tujuan yang lebih besar. Salah satunya adalah dengan memberi suara dalam Pemilu demi kesejahteraan bersama.

Puji dan sembah bagi-Mu, Bapa sebagai tanda terima kasih atas semua pembelajaran yang Engkau berikan melalui teladan putra-Mu, Yesus. Kuatkan kami selalu untuk dapat menjadi lebih baik dengan berjalan bersama-Nya. Amin.

Penulis Renungan: Rosita Sukadana
Pengisi Renungan: Dionisius Agus Puguh